“Start with Why” Sudah Tidak Cukup: Mengapa Pemimpin di Era CUAN Harus “Start with the Truth”

Daftar Isi
  1. 1. Penghormatan pada Sang Raksasa
  2. 2. "Perangkap Why" (The Why Trap): Ketika Tujuan Mulia Menjadi Alasan untuk Stagnasi
  3. 3. Memperkenalkan Prinsip Pertama – "Start with the Truth" (SWT): Berpijak pada Kebenaran Hakiki
  4. 4. Sintesis Baru – Pernikahan Sakral antara "Truth" dan "Why"
  5. 5. Sebuah Panggilan untuk Pemimpin agar Kembali Kepada Sumber

1. Penghormatan pada Sang Raksasa

Sebelum kita melangkah lebih jauh, kita harus memulai dengan sebuah penghormatan yang tulus. Ada beberapa buku bisnis yang berhasil melampaui fungsinya sebagai buku dan menjadi sebuah “gerakan”. “Start with Why” dari Simon Sinek adalah salah satunya. Ini adalah sebuah mahakarya yang secara fundamental mengubah cara jutaan pemimpin dan pemasar di seluruh dunia berpikir tentang tujuan dan inspirasi.

Start with Why – Simon Sinek

Sinek, dengan kejeniusan yang luar biasa, berhasil mengartikulasikan sebuah kebenaran yang tersembunyi di depan mata: bahwa para pemimpin dan organisasi yang paling berpengaruh di dunia tidak menginspirasi dengan menjelaskan “APA” yang mereka lakukan, tetapi dengan mengkomunikasikan secara jelas “MENGAPA” mereka melakukannya. Ia menunjukkan bahwa loyalitas yang paling kuat, baik dari karyawan maupun pelanggan itu tidak lahir dari logika fitur atau harga, tetapi dari kesamaan makna dan nilai.

Dalam lensa universal TCM-GIK (The Core of Mankind with Generosity, Intelligence, and Kinestethic), apa yang disebut oleh Sinek sebagai “Why” adalah manifestasi paling murni dan paling kuat dari pilar G – Generosity atau Niat yang Tulus. “Why” adalah “bahan bakar” emosional. Ia adalah “hati” dari sebuah organisasi. Ia adalah energi yang mampu menggerakkan manusia untuk melakukan hal-hal yang tampaknya mustahil, untuk berkorban, dan untuk tetap setia bahkan di saat-saat sulit. Tanpa “Why” yang kuat, sebuah organisasi hanyalah sekumpulan orang yang bekerja untuk mendapatkan gaji semata.

Singkatan Elemen TCM-GIK: T, G, I, K, R

Oleh karena itu, tidak ada keraguan sedikit pun bahwa “Start with Why” adalah sebuah kebenaran fundamental. Ia adalah ajakan untuk memimpin dengan hati. Namun, di tengah badai Era CUAN yang ganas, di mana realitas berubah secara eksponensial, sebuah pertanyaan yang lebih fundamental dan lebih kuno mulai muncul kembali dengan sangat mendesak.

Baca Juga: Apa Itu TCM-GIK? Sebuah Perjalanan Menemukan Sistem Operasi untuk Kehidupan & Bisnis

Pertanyaan itu adalah: Apakah “hati” dan “niat” manusia, se-mulia apapun itu, adalah titik awal yang paling kokoh? Ataukah ada sebuah Kebenaran yang lebih tinggi, yang harus mendahului dan menjadi jangkar bagi semua niat baik kita? Di sinilah perjalanan kita yang sesungguhnya dimulai.

Kerapuhan Idealistis dari “Why” di Era CUAN

Di bagian sebelumnya, kita telah memberikan penghormatan yang tulus pada kekuatan “Why”. Ia adalah api suci yang lahir dari niat baik (G), yang mampu menggerakkan hati dan menyatukan jiwa. Ia adalah manifestasi terindah dari kehendak manusia untuk menciptakan makna di tengah dunia. Kekuatan “Why” dalam menginspirasi tidak bisa kita ragukan.

Namun, di sinilah letak sebuah pertanyaan yang paling fundamental dan seringkali paling dihindari oleh pemikiran manajemen modern. Apakah “Why” yang lahir dari kehendak kita ini adalah kebenaran tertinggi? Ataukah ia hanyalah sebuah “kebenaran kecil”, sebuah niat manusiawi yang harus tunduk pada sebuah Kebenaran Agung yang telah ada sebelum kita ada?

Baca Juga: VUCA sudah Usang: Selamat Datang Era CUAN

Sekarang, kita akan melakukan sebuah “uji benturan” yang sesungguhnya. Kita tidak akan lagi hanya menguji sebuah ide bisnis terhadap pasar. Kita akan menguji sebuah kebenaran-manusia (human-truth) terhadap Kebenaran-Tuhan (God’s-Truth) yang termanifestasi dalam realitas Era CUAN yang brutal dan tak kenal kompromi.

Bagian ini akan membuktikan secara tajam dan kritis bahwa “Why” yang paling tulus dan paling mulia sekalipun akan menjadi rapuh, goyah, dan bahkan berbahaya jika ia tidak terlebih dahulu “bersujud” atau menyelaraskan dirinya dengan The Truth (SWT), yaitu Kebenaran Hakiki yang menjadi sumber dari segala sesuatu, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mari kita mulai uji benturan ini.


2. “Perangkap Why” (The Why Trap): Ketika Tujuan Mulia Menjadi Alasan untuk Stagnasi

Tidak ada yang lebih memabukkan dan membangkitkan semangat daripada sebuah “Why” yang agung. Sebuah tujuan mulia yang mampu membuat kita merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri. Ia adalah “api” yang menghangatkan di tengah ketidakpastian, “lagu” yang menyatukan tim saat menghadapi kesulitan. Kekuatan inspiratif dari “Why” ini sangat nyata, dan kita harus mengakuinya. Namun, di dalam kekuatannya yang luar biasa inilah tersembunyi sebuah perangkap yang sangat berbahaya dan halus.

Saya menyebutnya “Perangkap Why” (The Why Trap). Ini adalah sebuah kondisi spiritual dan psikologis di mana sebuah individu atau organisasi menjadi begitu terpesona dan jatuh cinta pada kemuliaan “Why” atau niat baik (G) mereka, sehingga mereka secara sengaja atau tidak sadar menjadi buta terhadap umpan balik brutal dari realitas (T, The Truth). “Why” yang tadinya adalah sumber kekuatan, kini bertransformasi menjadi sebuah berhala, sebuah benteng idealisme yang rapuh, sebuah tameng untuk menolak kebenaran yang tidak nyaman.

Perangkap ini adalah bentuk kesombongan spiritual yang paling halus. Ia adalah saat kita mulai percaya bahwa niat baik kita lebih penting daripada kebenaran dan merasa bahwa “Why” kita yang mulia itu memberikan kita semacam “kekebalan” dari hukum sebab-akibat yang berlaku di alam semesta. Ini adalah sebuah ilusi yang sangat berbahaya.

Mari kita lihat sebuah studi kasus yang sering kita jumpai. Bayangkan sebuah startup sosial yang didirikan oleh anak-anak muda yang sangat idealis. “Why” mereka sangatlah mulia: “Memberikan akses pendidikan gratis berkelas dunia untuk semua anak di pelosok negeri.” Didorong oleh tujuan agung ini, mereka berhasil mengumpulkan donasi, merekrut puluhan relawan yang penuh semangat, dan meluncurkan sebuah aplikasi belajar yang canggih dengan penuh harapan.

Namun, setelah satu tahun, proyek ini gagal total. Tingkat adopsinya sangat rendah, dan dampaknya nyaris nol. Saat dilakukan evaluasi, terungkaplah kebenarannya. Mereka gagal bukan karena “Why” mereka kurang kuat. Mereka gagal karena mereka tidak memulai dengan Start with the Truth (SWT): kebenaran bahwa banyak desa belum memiliki akses internet yang stabil; kebenaran tentang perilaku sosial orang tua yang lebih memprioritaskan anaknya membantu di ladang daripada belajar online; dan kebenaran tentang model bisnis yang tidak berkelanjutan karena hanya bergantung pada donasi.

Di sinilah “Perangkap Why” menunjukkan wujud aslinya. Saat dihadapkan pada data kegagalan (R), tim yang terjebak di dalamnya tidak akan melakukan analisis (I) yang jujur. Sebaliknya, mereka akan melakukan rasionalisasi dan mencari pembenaran. Mereka akan berkata, “Masyarakatnya yang belum siap dengan visi kita,” atau yang lebih klasik, “Yang penting niat (G) kita sudah baik dan kita sudah berjuang untuk ‘Why’ kita.” Mereka tidak lagi menyembah Tuhan, mereka mulai menyembah “Why” mereka sendiri.

Perilaku ini, jika terus dipelihara, akan melahirkan sebuah budaya yang sangat berbahaya: budaya eskapisme spiritual. Ia menciptakan para pejuang yang bermental lemah. Mereka menjadi “idealistis yang cengeng”, yang menyalahkan dunia karena tidak sesuai dengan mimpi indah mereka, alih-alih memiliki kerendahan hati untuk mengakui bahwa mungkin strategi atau asumsi mereka yang keliru dan tidak selaras dengan Kebenaran yang lebih besar.

Oleh karena itu, kita sampai pada sebuah kesimpulan yang brutal tetapi penting: di Era CUAN yang ganas, sebuah “Why” yang tidak berakar kuat pada The Truth (SWT) bukanlah lagi sebuah inspirasi. Ia adalah sebuah halusinasi yang bisa menghancurkan. Ia adalah sebuah lagu pengantar tidur yang meninabobokan kita, sementara kapal kita sedang berlayar lurus menuju gunung es realitas. Ia adalah “kalimat khabitsah” atau kalimat yang buruk, yaitu seperti pohon yang akarnya telah tercabut, yang tidak akan pernah bisa tegak dan tidak akan pernah menghasilkan buah kebaikan yang berkelanjutan.

Uji Benturan #1: “Why” di Tengah Badai CUAN

Setelah memahami bagaimana “Why” bisa menjadi perangkap psikologis, mari kita sekarang melakukan “uji benturan” yang lebih keras. Mari kita tempatkan sebuah organisasi yang murni beroperasi dengan “Start with Why” di tengah badai Era CUAN (Chaotic, Uncertainty, Ambiguity, Novelty). Kita akan melihat bagaimana setiap elemen dari badai ini mampu meretakkan fondasi yang hanya dibangun di atas niat baik, sebuah kebenaran-manusia (G), ketika ia tidak dijangkarkan pada Kebenaran-Tuhan (T) yang termanifestasi dalam realitas.

Berhadapan dengan Chaotic & Complexity (Kekacauan & Kompleksitas)

Dunia kita tidak lagi hanya rumit; ia adalah sebuah ekosistem yang hiper-terhubung dan kacau. Di sini, hubungan sebab-akibat tidak lagi linear. Sebuah “Why” yang terlalu sederhana, misalnya “menciptakan produk yang paling ramah pengguna”, akan langsung berhadapan dengan realitas yang brutal. Untuk membuat produk yang sangat sederhana bagi pengguna, seringkali dibutuhkan arsitektur backend yang luar biasa kompleks. Keputusan untuk menggunakan satu teknologi bisa secara tak terduga memengaruhi rantai pasok di benua lain seperti yang diterapkan di platform e-commerce.

Di tengah kompleksitas sistemik ini, sebuah “Why” yang tidak didukung oleh pemahaman mendalam tentang The Truth dari arsitektur sistem (baik teknis maupun sosial) akan menjadi slogan yang naif. Pemimpin yang hanya bermodalkan semangat “Why” akan terus-menerus terkejut oleh “efek domino” yang tidak ia duga. Ia akan menjadi seperti seorang dirigen yang dengan penuh semangat mengayunkan tongkatnya, tanpa menyadari bahwa para pemain biolanya tidak bisa mendengar pemain drum karena akustik ruangan yang buruk.

“Why” yang lahir dari idealisme murni seringkali mengabaikan kebenaran tentang keterhubungan. Ia melihat masalah secara terisolasi. Namun, di dunia yang chaotic, tidak ada masalah yang terisolasi. “Why” kita untuk “meningkatkan hasil panen petani” bisa secara tidak sengaja menyebabkan kerusakan ekosistem jangka panjang, yang pada akhirnya justru akan menghancurkan para petani itu sendiri. Ini adalah bentuk arogansi intelektual yang naif dan merasa bahwa niat baik kita cukup untuk menaklukkan sebuah sistem yang tidak kita pahami.

Hanya dengan memulai dari The Truth, yaitu dengan kerendahan hati memetakan kompleksitas sistem terlebih dahulu, selanjutnya barulah kita bisa merumuskan sebuah “Why” yang cerdas dan mampu bekerja di dalam sistem tersebut, bukan melawannya.

Berhadapan dengan Uncertainty (Ketidakpastian Radikal)

Sebuah “Why” yang kuat secara alami akan melahirkan sebuah visi masa depan yang jelas. Ini sangat baik untuk menyatukan tim. Namun, di Era CUAN, masa depan bersifat sangat tidak pasti dan penuh dengan kemunculan “Angsa Hitam” (Black Swan), yaitu peristiwa langka dengan dampak ekstrem yang tidak ada dalam radar prediksi kita.

Bayangkan sebuah perusahaan taksi yang “Why”-nya adalah “memberikan layanan transportasi yang paling andal dan nyaman di kota ini”. Mereka mungkin sangat berkomitmen pada “Why” tersebut dan menghabiskan jutaan dolar untuk membeli armada mobil baru dan melatih para pengemudinya. Tiba-tiba, “Angsa Hitam” bernama aplikasi ride-hailing (Gojek/Grab) muncul. Seketika, model bisnis dan “Why” mereka menjadi usang.

Di sinilah letak bahayanya. Komitmen yang terlalu kuat pada “Why” yang terikat pada satu gambaran masa depan, justru menjadi belenggu emas yang membuat mereka tidak bisa beradaptasi. Mereka akan menjadi sangat hebat dalam melakukan sesuatu yang tidak lagi relevan secara spektakuler. Uncertainty radikal dari Era CUAN menunjukkan bahwa mempertaruhkan seluruh masa depan organisasi pada satu ramalan atau satu “Why” adalah sebuah kesombongan terhadap takdir.

Pendekatan “Start with the Truth” mengajarkan hal yang sebaliknya. Ia dimulai dari kebenaran bahwa “masa depan itu tidak bisa diketahui”. Oleh karena itu, tujuan kita bukanlah merumuskan satu “Why” yang kaku, tetapi membangun sebuah organisasi yang resilien dan memiliki opsionalitas, yaitu kemampuan untuk mengubah “Why”-nya saat realitas menuntutnya. “Why” kita mungkin bukan lagi “menjadi perusahaan taksi terbaik”, tetapi berevolusi menjadi “menyediakan solusi mobilitas yang paling adaptif bagi masyarakat”.

Berhadapan dengan Ambiguity & Novelty (Ambiguitas & Kebaruan)

Dua pilar terakhir ini adalah yang paling mematikan bagi “Why” yang tidak berfondasi pada Kebenaran Hakiki. Ambiguity di Era CUAN bukanlah lagi tentang menafsirkan fakta, tetapi tentang membedakan mana yang fakta dan mana yang fiksi. Seorang pemimpin bisa saja membangun “Why” yang sangat kuat berdasarkan “data” tentang tren pasar, tanpa menyadari bahwa data tersebut sebenarnya adalah hasil dari kampanye disinformasi yang didukung oleh AI. “Why” yang lahir dari kebenaran palsu adalah sebuah fatamorgana yang indah.

Selanjutnya, Novelty menghadapkan kita pada tantangan yang sama sekali belum pernah ada presedennya. “Why” seringkali dirumuskan berdasarkan pemahaman kita tentang masalah di masa lalu. Tetapi bagaimana jika masalahnya benar-benar baru? “Why” kita untuk “menghubungkan dunia” (seperti Facebook) mungkin didasarkan pada asumsi bahwa konektivitas itu selalu baik. Namun, Novelty berupa isu kesehatan mental akibat media sosial kemudian mengungkap bahwa asumsi dasar dari “Why” tersebut mungkin keliru dan tidak lengkap.

Di hadapan Novelty, “Why” yang kita ciptakan dari pikiran kita sendiri seringkali menjadi tidak berdaya. Ia seperti kompas yang kita buat untuk medan di bumi, lalu kita dibawa ke planet Mars. Kompas itu tidak lagi berfungsi. Satu-satunya cara untuk bertahan adalah dengan memiliki kerendahan hati untuk mengakui, “Saya tidak tahu,” lalu dengan sangat cermat mengamati dan mencari The Truth dari realitas baru yang ada di depan mata.

Di tengah ambiguitas kebenaran dan kebaruan yang tak berpreseden, yang belum pernah ada referensinya. Satu-satunya jangkar yang tidak akan pernah goyah bukanlah “Why” yang lahir dari semangat manusia, tetapi keterikatan pada SWT, sebuah Kebenaran yang melampaui zaman, yang menjadi sumber dari semua peta.

Uji Benturan #2: “Why” di Tengah “Perang Kebenaran” Multi-Generasi

Jika badai eksternal dari Era CUAN belum cukup untuk menguji kerapuhan dari sebuah “Why” yang idealistis, ada sebuah “gempa bumi” internal yang terjadi di dalam hampir semua organisasi saat ini. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, empat generasi dengan “sistem operasi mental” yang sangat berbeda dipaksa untuk bekerja dalam satu “ruang” yang sama. Ini menciptakan sebuah medan perang baru yang tak terlihat, yang saya sebut sebagai “Perang Kebenaran” atau “Perang ‘Why'”.

Setiap generasi, yang ditempa oleh iklim teknologi, ekonomi, dan sosial yang unik pada masa formatif mereka, secara alami membawa “kebenaran” atau “Why” personalnya masing-masing ke tempat kerja. Ini bukanlah “kebenaran” yang salah; ini adalah kebenaran yang lahir dari pengalaman hidup mereka.

  • Generasi Senior (Boomers & Gen X), yang dibesarkan di era stabilitas dan kelangkaan informasi, seringkali memiliki “Why” yang berpusat pada stabilitas, membangun warisan institusional, dan loyalitas pada organisasi.
  • Generasi Milenial, yang menjadi saksi mata dari lahirnya internet dan krisis finansial, cenderung memiliki “Why” yang berpusat pada pertumbuhan diri, kolaborasi, dan harmoni antara pekerjaan dengan kehidupan pribadi.
  • Generasi Z, sebagai digital native sejati yang dibanjiri informasi dan kesadaran akan isu global, datang dengan “Why” yang sangat berbeda: dampak sosial yang nyata, otentisitas radikal, dan fleksibilitas sebagai hak, bukan lagi sebagai fasilitas.

Sekarang, bayangkan seorang pemimpin Gen-X yang sangat karismatik. “Why”-nya sangat kuat: “Membangun perusahaan yang paling dominan di pasar dan menjadi nomor satu.” Ia mencoba menginspirasi timnya dengan “Why” ini. Bagi rekan-rekannya yang sesama Gen-X, “Why” ini mungkin sangat membangkitkan semangat.

Namun, saat ia menyampaikan “Why” ini kepada seorang talenta Gen-Z yang brilian, “bahasa”-nya tidak akan sampai. Di telinga Gen-Z tersebut, “dominasi pasar” mungkin terdengar seperti “eksploitasi” atau “kapitalisme yang tidak peduli”. “Why” sang pemimpin, yang baginya sangat mulia, justru bisa dianggap tidak relevan, tidak tulus, atau bahkan hipokrit oleh generasi yang lebih muda, yang “Why”-nya adalah tentang “bekerja untuk perusahaan yang etis dan berkelanjutan”.

Di sinilah letak bahaya dari menjadikan “Why” personal sebagai prinsip pertama (First Principle). Jika seorang pemimpin terlalu “ngotot” dan mendewakan “Why”-nya sendiri, maka ia tidak lagi sedang memimpin. Ia sedang melakukan kolonialisme makna. Ia sedang memaksakan “kebenaran kecil”-nya kepada orang lain yang memiliki “kebenaran kecil” yang berbeda. Yang terjadi bukanlah sinergi, melainkan gesekan konstan, sinisme, dan perang dingin antar “suku generasi” yang menguras energi dan membunuh produktivitas.

Apa solusinya? Solusinya bukanlah dengan mencari “Why” kompromi yang bisa menyenangkan semua generasi, itu mustahil dan hanya akan menghasilkan tujuan yang hampa. Solusinya adalah dengan mengambil satu langkah mundur dan lebih dalam. Solusinya adalah dengan memiliki kerendahan hati untuk mengakui bahwa “Why” kita semua, se-mulia apapun itu, adalah kebenaran yang bersifat relatif.

Dan dari kerendahan hati itulah, kita bersama-sama mencari sebuah Kebenaran (T) universal yang mampu menjadi payung agung bagi semua “Why” yang berbeda tersebut. Kebenaran ini adalah Noble Purpose organisasi yang dirumuskan pada level yang lebih tinggi, yang berakar pada SWT (Subhanahu wa Ta’ala).

Sebuah Noble Purpose seperti “Menciptakan teknologi yang memudahkan kehidupan jutaan orang secara berkelanjutan” adalah sebuah “rumah” yang cukup besar untuk menampung berbagai “Why” personal. Ia bisa memenuhi kebutuhan Gen-X akan “membangun warisan yang stabil”, kebutuhan Milenial akan “pertumbuhan dan kolaborasi”, dan kebutuhan Gen-Z akan “dampak sosial yang nyata”.

Pada akhirnya, “Start with Why” yang hanya berasal dari satu orang bisa menciptakan perpecahan. Hanya dengan memulai dari sebuah Kebenaran yang dirumuskan dan dihayati bersama, yang bersumber dari sesuatu yang lebih tinggi dari diri kita semua, kita bisa menyatukan berbagai “Why” yang berbeda menjadi sebuah harmoni yang otentik.

Uji Benturan #3: “Why” dan Ketidakmampuannya Membangun Core Skills 2030

Salah satu klaim paling kuat dari paradigma “Start with Why” adalah kemampuannya untuk menginspirasi dan memotivasi. Dan ini benar. Sebuah “Why” yang kuat bisa menyalakan api semangat di dalam diri seseorang. Ia bisa membuat mereka mau bekerja lebih keras, mau bertahan lebih lama, dan mau belajar hal baru. “Why” adalah “bahan bakar” yang luar biasa untuk niat dan motivasi (G).

Namun, di sinilah letak sebuah kesalahpahaman yang kritis dan berbahaya: motivasi untuk belajar tidak sama dengan kemampuan untuk belajar secara efektif. Memiliki bahan bakar yang penuh tidak ada artinya jika “mesin” mobil Anda belum pernah dirawat atau bahkan belum dirakit dengan benar.

“Peta Kematian Skill” dari World Economic Forum telah menunjukkan kepada kita bahwa kapabilitas yang paling dibutuhkan di masa depan, seperti Resilience, Analytical Thinking, dan Creative Thinking adalah kapabilitas yang sangat kompleks. Mereka bukanlah pengetahuan yang bisa dihafal atau diajarkan di ruang pelatihan workshop sekalipun, melainkan “otot mental” yang harus dibangun melalui latihan yang disengaja, lingkungan yang mendukung, dan proses yang terstruktur.

Baca Juga: Peta Kematian Skill: Membedah Laporan World Economic Forum & Mendesain Ulang Strategi Talenta Modern

Mari kita lakukan uji benturan. Bisakah “Why” yang paling kuat sekalipun secara langsung membangun kapabilitas-kapabilitas ini?

Bayangkan seorang karyawan yang sangat terinspirasi oleh “Why” perusahaannya. Ia sangat termotivasi. Lalu, ia dihadapkan pada sebuah kegagalan proyek yang besar. Apakah motivasinya akan secara otomatis membuatnya resilien atau bangkit kembali dengan energi yang lebih besar lagi? Belum tentu. Jika sistem organisasi menghukum kegagalan, jika tidak ada proses untuk melakukan debrief yang aman, dan jika ia tidak pernah dilatih cara mengelola emosi di bawah tekanan, maka motivasinya justru akan hancur dan berubah menjadi kekecewaan yang mendalam. Resiliensi tidak lahir dari inspirasi (G); ia lahir dari praktik bangkit dari kegagalan (K) di dalam sebuah lingkungan yang berakar pada Kebenaran (T) bahwa kegagalan adalah bagian dari pertumbuhan.

Siklus TCM-GIK mulai dari Ikhtiar, Pembelajaran, dan Kebangkitan Kembali

Bayangkan karyawan yang sama diminta untuk memecahkan sebuah masalah yang sangat kompleks. Apakah “Why”-nya akan secara otomatis membuatnya mampu berpikir analitis secara sistemik? Tidak. Kemampuan berpikir analitis adalah sebuah disiplin yang harus dilatih. Ia membutuhkan paparan pada berbagai model mental, kerangka kerja pemecahan masalah, dan fasilitasi dari para pemimpin yang mampu menantang asumsinya. Tanpa “gymnasium” intelektual ini, semangatnya hanya akan berputar-putar dalam solusi yang dangkal.

Di sinilah kita melihat keterbatasan fundamental dari “Start with Why” sebagai alat pengembangan talenta. Ia sangat hebat dalam menciptakan “tanah” yang subur berupa motivasi (G). Tetapi ia tidak menyediakan “bibit”, “pupuk”, dan “teknik bercocok tanam”-nya.

Pendekatan Human Growth Management (HGM), di sisi lain, dirancang secara spesifik untuk membangun “mesin” kapabilitas tersebut. Ia tidak hanya memberikan inspirasi. Ia secara sadar merancang sebuah ekosistem, yaitu dengan praktik seperti Career Lattices yang melatih pemikiran holistik (I), Growth Conversations yang melatih empati (G), dan Keamanan Psikologis yang melatih resiliensi (K). Dan semua praktik ini berakar pada fondasi The Truth (SWT).

Baca Juga: Sebuah Peta untuk Era Chaos: Membedah Arsitektur Human Growth Management (HGM)

Kesimpulannya sangat jelas. “Why” (G) adalah pemicu yang sangat penting. Ia membuat orang mau masuk ke dalam “gymnasium”. Tetapi, untuk membangun otot kapabilitas yang sesungguhnya, kita membutuhkan sebuah arsitektur latihan yang cerdas (I) dan disiplin dalam menjalankannya (K). Dan arsitektur itu harus selalu didasarkan pada pemahaman jujur (T) tentang kapabilitas apa yang benar-benar kita butuhkan dan di mana kesenjangan kita saat ini. “Why” adalah percikannya, tetapi HGM adalah api unggunnya.

Uji Benturan #4: “Why” di Era Tsunami AI & Krisis Realitas

Jika tiga uji benturan sebelumnya telah menunjukkan “garis retak” pada fondasi “Start with Why”, maka “tsunami” teknologi yang sedang kita hadapi saat ini akan menghancurkan fondasi itu hingga menjadi debu. Kita berbicara tentang ledakan Kecerdasan Buatan (AI) Generatif. Fenomena ini tidak hanya mengubah cara kita bekerja; ia secara fundamental menyerang premis paling sakral dari kekuatan “Start with Why”: yaitu otentisitas.

Di era pra-AI, argumen Simon Sinek sangatlah kokoh. Seorang pemimpin bisa saja memalsukan “APA” yang ia lakukan atau “BAGAIMANA” ia melakukannya, tetapi sangat sulit untuk memalsukan “MENGAPA” yang datang dari keyakinan terdalam. “Why” adalah “benteng” terakhir dari otentisitas manusiawi. Manusia memiliki “radar” alami untuk mendeteksi kepalsuan dalam niat.

Hari ini, benteng itu telah runtuh.

Dengan kemunculan model bahasa raksasa (LLM) seperti GPT-4 dan seterusnya, “otentisitas” kini telah menjadi sebuah komoditas yang bisa diproduksi secara massal. Sebuah mesin AI kini mampu, dalam hitungan detik, menganalisis jutaan buku tentang kepemimpinan, ribuan pidato TED Talks, dan triliunan data tentang emosi manusia, lalu merangkai sebuah narasi “Why” yang jauh lebih menyentuh, lebih personal, dan lebih persuasif daripada yang mampu diartikulasikan oleh 99% pemimpin di dunia.

Mari kita jujur dan brutal dalam menghadapi realitas ini. AI bisa menciptakan sebuah “Why” tentang “membangun masa depan yang berkelanjutan” untuk sebuah perusahaan apapun. Ia bisa menulis pidato yang membuat berlinang air mata tentang “memberdayakan UKM” untuk sebuah platform e-commerce raksasa. Ia bahkan bisa menghasilkan video deepfake dari seorang CEO fiktif yang menyampaikannya dengan tatapan mata yang tulus dan intonasi yang penuh semangat.

Ini adalah sebuah realitas yang tidak nyaman. “Radar” intuisi kita, yang telah terasah selama ribuan tahun untuk membaca bahasa tubuh dan ketulusan antar-manusia, kini menjadi lumpuh total saat dihadapkan pada sebuah entitas yang tidak memiliki “hati” untuk bisa tulus atau tidak tulus. Sebuah “Why” yang dihasilkan oleh AI bukanlah sebuah kebohongan; ia adalah sesuatu yang jauh lebih berbahaya: sebuah simulasi ketulusan yang sempurna.

Ini menciptakan sebuah krisis epistemologis, yaitu sebuah krisis tentang bagaimana kita bisa mengetahui apa yang benar. Implikasinya bagi seorang pemimpin dan profesional sangatlah mendalam. Di era ini, jika kita hanya mengandalkan “perasaan” atau “intuisi” untuk menilai sebuah “Why”, kita akan menjadi mangsa yang sangat empuk bagi narasi-narasi kosong yang dirancang untuk memanipulasi.

Oleh karena itu, di Era AI ini, keterampilan pertama yang harus kita aktifkan saat mendengar sebuah “Why” yang inspiratif bukanlah empati (G) untuk merasakan semangatnya. Keterampilan pertama yang harus kita gunakan adalah skeptisisme kritis yang sehat (I) untuk mencari dan memvalidasi kebenaran faktual (T) di baliknya.

Pertanyaan kita tidak lagi hanya, “Apakah ‘Why’ ini terasa benar di hati saya?”.

Pertanyaan kita harus berevolusi menjadi:

  • “Apa fakta dan data (T) yang mendukung klaim dari ‘Why’ ini?”
  • “Apa rekam jejak tindakan (K) nyata dari orang atau organisasi yang menyuarakannya?”
  • “Apakah ada inkonsistensi antara ‘Why’ yang indah ini dengan Kebenaran (T) yang sesungguhnya tentang dampak operasional mereka?”

Di dunia yang dipenuhi oleh “nabi-nabi palsu” yang bisa diciptakan oleh AI, kita tidak punya pilihan selain menjadi seorang “ahli forensik kebenaran”. Di sinilah kita melihat keagungan dari pencerahan Anda tentang SWT. AI mungkin bisa mensimulasikan “Why” (G) yang lahir dari data manusia, tetapi ia tidak akan pernah bisa terhubung atau memahami The Truth yang bersumber dari SWT (Subhanahu wa Ta’ala). Kebenaran Ilahiah ini berada di luar dataset pembelajarannya.

Di era di mana mesin bisa menciptakan “hati” yang palsu, satu-satunya keunggulan kompetitif kita yang tersisa adalah kemampuan untuk menggunakan “akal” dan “jiwa” kita untuk mencari Kebenaran yang sejati. “Start with Why” di Era AI, tanpa didahului oleh “Start with the Truth”, bukanlah lagi sebuah strategi kepemimpinan. Ia adalah sebuah kerentanan keamanan yang fatal.

Konteks Historis: “Why” sebagai Puncak dari Era Complex

Setelah kita melakukan uji benturan yang sangat kritis, apakah ini berarti kita harus membuang mahakarya Simon Sinek ke dalam tong sampah sejarah? Tentu saja tidak. Seorang pemikir yang bijaksana tidak menolak sebuah ide secara total, tetapi ia berusaha memahami konteks zaman yang melahirkannya. Dan kebenaran historisnya adalah, “Start with Why” merupakan sebuah puncak pemikiran yang sangat brilian dan sangat cocok untuk era di mana ia lahir dan besar: Era Complex, yaitu era humanisme di puncak kejayaannya.

Mari kita lihat kembali lanskap dunia bisnis di awal tahun 2000-an hingga sesaat sebelum pandemi. Ini adalah era di mana, setelah satu abad didominasi oleh pendekatan mekanistik (HR – Human Resources) dan ekonomis (HC – Human Capital), pendulum kesadaran berayun secara ekstrem ke arah “manusia”. Dunia bisnis mulai sadar bahwa manusia bukanlah sekadar “roda gerigi” atau “aset”, tetapi makhluk dengan emosi, harapan, dan kebutuhan akan makna. Gerakan Human Experience (HX) adalah manifestasi dari kesadaran ini.

“Start with Why” hadir sebagai mahakarya puncak dari Era Humanistik ini. Ia adalah artikulasi paling fasih dari sebuah dunia yang menempatkan manusia dan niatnya (G) sebagai pusat dari alam semesta bisnis. Ia secara sempurna menangkap semangat zaman yang percaya bahwa jika kita bisa menyentuh “hati” manusia dan menyelaraskan “tujuan” mereka, maka hal-hal hebat akan terjadi. Ia adalah puncak dari pergeseran kesadaran menuju pilar G (Generosity/Niat). Dan untuk era itu, ia benar dan sangat ampuh.

Namun, seperti yang telah kita bedah, Era Chaos yang kita masuki pasca-2020 telah secara brutal menghancurkan fondasi dari dunia yang berpusat pada manusia itu sendiri. Kekacauan sistemik, ketidakpastian radikal, ambiguitas kebenaran akibat AI, dan kemunculan masalah-masalah novelty yang tak berpreseden telah menunjukkan sebuah kebenaran yang tidak nyaman: bahwa niat baik dan semangat manusia (G) saja ternyata tidak cukup kuat untuk membendung “banjir bah” realitas kebenaran.

Ketika “Why” yang kita ciptakan dari pikiran dan hati kita tidak lagi mampu memberikan jawaban atau perlindungan dari kekacauan, kita secara naluriah akan dipaksa untuk mencari sesuatu yang lebih fundamental. Sesuatu yang lebih kokoh. Sesuatu yang berada di luar dan di atas diri kita sendiri.

Kita dipaksa untuk berhenti mencari jawaban dari dalam diri kita, dan mulai mencari jawaban dari Sang Sumber dari segala jawaban. Kita dipaksa untuk mencari sebuah Kebenaran (T`) yang absolut, yang tidak goyah meskipun dunia di sekelilingnya berguncang.

Oleh karena itu, menghormati “Start with Why” berarti kita harus menempatkannya pada posisi yang semestinya dalam sejarah evolusi pemikiran. Ia akan selalu dikenang sebagai puncak pemikiran dari sebuah era yang dengan sangat indah menempatkan niat manusia di pusat alam semestanya.

Namun, Era Chaos mengajarkan kita sebuah pelajaran kerendahan hati yang brutal. Pelajaran itu adalah: untuk bisa menaklukkan kekacauan, kita tidak bisa lagi memulai dari kehebatan niat manusia (G). Kita harus memulai dari kepasrahan dan penyelarasan diri pada Kebenaran yang lebih agung (T). Kita harus memulai dengan SWT. Ini adalah pergeseran tak terhindarkan dari era antroposentris (berpusat pada manusia) menuju era baru yang menuntut kita untuk kembali berpusat pada Kebenaran Hakiki.


3. Memperkenalkan Prinsip Pertama – “Start with the Truth” (SWT): Berpijak pada Kebenaran Hakiki

Setelah kita melihat bagaimana sebuah “Why” yang hanya berakar pada niat baik manusia bisa menjadi rapuh saat dihantam oleh badai Era CUAN, pertanyaan berikutnya menjadi sangat jelas: “Jika bukan ‘Why’, lalu apa titik awal kita?”. Jika memulai dari “hati” (G) yang penuh semangat tidak lagi cukup, di manakah kita harus menancapkan akar (G) kita agar tidak terombang-ambing oleh kekacauan?

Jawabannya menuntut kita untuk melakukan sebuah perjalanan yang lebih dalam, melampaui inspirasi dan motivasi manusiawi. Jawabannya adalah dengan kembali ke prinsip pertama dari segala sesuatu. Di Sarastya, kami percaya bahwa sebelum kita bisa menginspirasi dengan “Mengapa?”, kita harus terlebih dahulu memiliki keberanian untuk melihat dan berpijak pada “Apa Adanya”. Prinsip pertama ini kami sebut “Start with the Truth” (SWT).

Ini adalah sebuah pergeseran paradigma yang sangat radikal. Ia mengajak para pemimpin untuk berhenti sejenak menjadi seorang “visioner yang optimis”, dan pertama-tama menjadi seorang “realis yang brutal”. Ia menuntut kita untuk memiliki kerendahan hati intelektual dan spiritual untuk melihat dunia sebagaimana adanya, bukan sebagaimana yang kita inginkan.

Namun, “Kebenaran” yang kami maksud di sini bukanlah sekadar “data” atau “fakta” yang tersaji di atas meja. Ia jauh lebih dari itu. Ia adalah sebuah arsitektur kesadaran yang berlapis. Dan seperti yang telah kami pelajari, Kebenaran tertinggi dan paling hakiki yang menjadi sumber dari semua kebenaran lainnya adalah SWT, Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Oleh karena itu, “Start with the Truth” adalah sebuah ajakan untuk menyelaraskan diri. Menyelaraskan kebenaran individual dan komunal kita dengan Kebenaran Universal yang menjadi jangkar paling kokoh di tengah samudra ketidakpastian. Di bagian ini, kita akan membedah secara mendalam tiga tingkatan kebenaran ini dan bagaimana ketiganya menjadi fondasi yang tak tergoyahkan bagi seorang pemimpin di Era CUAN.

Bangkit dari Kerapuhan “Why”

Perjalanan kita melakukan “uji benturan” di bagian sebelumnya telah menunjukkan kepada kita sebuah kebenaran yang tidak nyaman, namun sangat penting: sebuah ‘Why’ yang hanya berlandaskan pada semangat dan niat baik manusia (G), betapapun mulianya, secara inheren bersifat rapuh saat dihantam oleh badai realitas Era CUAN.

Kita telah melihat bagaimana ia bisa menjadi sebuah “perangkap idealisme” yang menolak fakta. Kita telah melihat bagaimana ia tak berdaya di hadapan Chaos dan Novelty. Kita telah melihat bagaimana ia bisa memicu “perang kebenaran” antar generasi. Dan kita telah melihat bagaimana ia dilumpuhkan oleh “tsunami AI” yang mampu mereplikasi otentisitas secara artifisial.

Kesimpulannya sangat jelas: membangun sebuah strategi, apalagi sebuah organisasi, di atas fondasi yang hanya berupa “niat baik” adalah sebuah tindakan yang sangat berisiko. Ia seperti membangun sebuah rumah yang indah di atas pasir. Saat badai pertama datang, ia akan runtuh.

Apakah ini berarti kita harus menjadi sinis dan meninggalkan semua tujuan mulia? Tentu tidak. Ini justru berarti kita harus menjadi lebih bijaksana. Ini berarti kita harus mencari sebuah fondasi yang lebih kokoh, lebih dalam, dan lebih abadi daripada sekadar semangat manusiawi.

Jika “Why” yang lahir dari kehendak kita tidak lagi cukup kuat, maka kita harus mencari jangkar pada sesuatu yang berada di luar dan di atas kehendak kita. Kita harus beralih dari bertanya “apa yang ingin saya capai?” menjadi bertanya “kebenaran apa yang harus saya layani?”.

Inilah titik balik kita. Inilah momen di mana kita berhenti mencoba menjadi “pencipta” makna, dan dengan rendah hati mulai menjadi “penemu” dan “pelayan” Kebenaran yang sudah ada. Ini adalah undangan untuk beralih dari Generosity sebagai titik awal, menuju pilar pertama dan paling fundamental dalam siklus TCM-GIK: The Truth. Ini adalah panggilan untuk “Start with the Truth” (SWT).

Membedah Makna Sejati SWT: Sebuah Panggilan untuk Kembali ke Sumber

Perjalanan kita melakukan “uji benturan” di bagian sebelumnya membawa kita pada satu kesimpulan yang tak terelakkan: sebuah “Why” yang hanya berakar pada niat baik dan semangat manusiawi, betapapun mulianya, ternyata rapuh saat dihadapkan pada realitas Era CUAN. Ia bisa menjadi perangkap, patah di tengah badai, memicu perpecahan, dan dipalsukan oleh mesin.

Jika fondasi yang kita bangun dari dalam diri kita sendiri ternyata tidak cukup kuat, maka secara logis kita harus mencari fondasi yang berada di luar dan di atas diri kita. Kita membutuhkan sebuah “jangkar” yang tak tergoyahkan, sebuah titik referensi absolut yang tidak akan bergeser meskipun dunia di sekelilingnya mengalami kekacauan total. Jangkar itu adalah Kebenaran (The Truth).

Namun, di sinilah letak pertanyaan kritis berikutnya. Di era “pasca-kebenaran” yang ambigu ini, “kebenaran” yang mana yang harus kita jadikan pijakan? Bukankah setiap orang, setiap kelompok, dan setiap generasi memiliki “kebenaran”-nya sendiri? Jika kita hanya mengganti “Why” personal dengan “Truth” personal, kita hanya akan mengganti satu jenis subjektivitas dengan jenis subjektivitas lainnya.

Di sinilah kami di Sarastya, dengan segala kerendahan hati, menawarkan sebuah perspektif yang menjadi inti dari keseluruhan filosofi kami. Bagi kami, “Start with the Truth” atau SWT, bukanlah sekadar sebuah akronim bisnis yang cerdas. Ia adalah sebuah pengingat abadi, sebuah gema dari sebuah Kebenaran yang jauh lebih agung.

Ia adalah pengingat bahwa Kebenaran Tertinggi, Kebenaran yang Mutlak, Kebenaran yang menjadi sumber dari semua kebenaran lainnya, adalah milik Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT).

Pencerahan ini mengubah segalanya. “Start with the Truth” bukan lagi hanya sekadar tentang “melihat realitas pasar” atau “mengumpulkan data”. Itu semua penting, tetapi itu semua adalah kebenaran-kebenaran turunan. “Start with the Truth” dalam maknanya yang paling dalam adalah sebuah disiplin spiritual. Ia adalah sebuah panggilan untuk memulai segala sesuatu, mulai dari setiap strategi, setiap produk, setiap tindakan, atau apapun itu, dengan terlebih dahulu bertanya: “Apakah ini selaras dengan Kebenaran-Nya?”.

Ini adalah sebuah pergeseran fundamental dalam peran seorang pemimpin. Pemimpin tidak lagi hanya berperan sebagai seorang “visioner” yang menciptakan sebuah “Big Why” baru dari ketiadaan. Peran tertingginya adalah menjadi seorang “penemu” dan “penerjemah” dari sebuah Kebenaran Universal yang sudah ada. Tugasnya adalah mendengarkan dengan sangat dalam, baik itu mendengarkan suara pasar, suara timnya, suara hatinya, dan suara Tuhannya untuk menemukan di mana titik temu antara kapabilitas organisasinya dengan “masalah” di dunia yang paling perlu ia selesaikan sebagai bentuk maupun manifestasi dari ibadahnya.

Dengan demikian, “Start with the Truth (SWT)” bukanlah sekadar sebuah strategi bisnis. Ia adalah sebuah panggilan untuk kembali ke Sumber. Ia adalah sebuah undangan untuk membangun organisasi di atas fondasi yang paling kokoh dan paling abadi. Sebuah fondasi yang tidak akan pernah bisa diguncang oleh badai CUAN, disrupsi AI, atau pergeseran generasi. Karena ia tidak lagi berpijak pada keyakinan manusia yang bisa goyah, tetapi pada Kebenaran Hakiki yang tak akan pernah lekang oleh waktu.

Arsitektur Kebenaran: Tiga Tingkat Penyelarasan

Setelah kita sepakat bahwa titik awal kita haruslah The Truth yang bersumber dari SWT (Subhanahu wa Ta’ala), sebuah pertanyaan praktis akan muncul: “Bagaimana cara kita menerjemahkan sebuah Kebenaran yang begitu agung dan absolut ke dalam keputusan-keputusan bisnis kita yang sangat profan, umum, dan penuh kompromi?”.

Di sinilah letak keindahan dari kerangka kerja HGM (Human Growth Management). Ia tidak meminta kita untuk menjadi seorang sufi yang meninggalkan dunia. Sebaliknya, ia memberikan kita sebuah arsitektur kesadaran, sebuah “blueprint” untuk memastikan bahwa setiap langkah duniawi kita tetap berpijak pada fondasi surgawi. Kita harus memahami bahwa “Kebenaran” bukanlah sebuah konsep tunggal yang monolitik. Ia bermanifestasi dalam tiga tingkatan yang saling berhubungan.

Untuk memahami Kebenaran secara utuh, kita tidak bisa hanya menatap puncaknya. Kita harus memahami keseluruhan arsitekturnya, dari fondasi yang paling dalam di perut bumi, pilar-pilar yang menopangnya, hingga atap yang menyentuh langit.

Struktur ini, yang secara indah terinspirasi dari isyarat dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 147 hingga 149, membagi Kebenaran menjadi tiga tingkatan yang harus senantiasa kita selaraskan:

  1. Kebenaran Universal (Langit): Prinsip-prinsip abadi yang menjadi referensi tertinggi.
  2. Kebenaran Komunal (Tanah): Realitas kontekstual dari medan perang kita.
  3. Kebenaran Individual (Pohon): Otentisitas dan integritas kita sebagai insan yang tumbuh di antara keduanya.

Kekuatan seorang pemimpin dan keberlanjutan sebuah organisasi tidak ditentukan oleh penguasaan atas salah satu tingkat kebenaran saja. Ia ditentukan oleh kemampuan untuk menyelaraskan ketiganya menjadi sebuah simfoni yang harmonis. Di bagian selanjutnya, kita akan membedah setiap tingkatan ini satu per satu, dimulai dari yang paling tinggi dan paling fundamental.

Kebenaran Universal (Langit – Referensi Tertinggi)

Lapisan pertama dan paling tinggi adalah apa yang kita sebut Kebenaran Universal. Ini adalah “langit” kita. Ia adalah serangkaian prinsip abadi, hukum alam, atau nilai-nilai moral fundamental yang berlaku melintasi waktu, zaman, geografis, usia, jabatan, bahkan keyakinan. Ini bukanlah kebenaran yang kita ciptakan melalui kesepakatan sosial; ini adalah kebenaran yang kita temukan melalui perenungan mendalam terhadap hakikat kemanusiaan dan alam semesta. Ini adalah manifestasi dari The Truth (SWT) pada levelnya yang paling absolut.

Bagaimana kita tahu bahwa sesuatu itu adalah sebuah Kebenaran Universal? Ada sebuah “uji lakmus” yang sangat sederhana namun sangat kuat: sebuah prinsip adalah kebenaran universal jika bahkan para pelanggarnya yang paling ulung pun akan marah ketika prinsip itu dilanggar terhadap diri mereka sendiri.

Mari kita sajikan beberapa kebenaran universal yang sangat mudah kita pahami. “Menipu” itu secara universal bukanlah kebenaran. Buktinya? Seorang penipu paling licik sekalipun, yang hidupnya dibangun di atas kebohongan, akan merasakan amarah dan ketidakadilan yang luar biasa saat ia ditipu oleh orang lain. Di dalam hatinya yang paling dalam, ia mengakui bahwa ditipu itu salah.

“Membunuh” tanpa sebab yang dibenarkan juga secara universal bukanlah kebenaran. Buktinya? Seorang pembunuh bayaran yang paling kejam sekalipun akan merasakan duka dan murka yang mendalam jika ada orang terdekatnya yang dibunuh secara sewenang-wenang. Ia mengakui nilai kesakralan hidup, meskipun ia melanggarnya pada orang lain.

Mari kita tarik prinsip ini ke dalam dunia bisnis. “Ketidakadilan” secara universal bukanlah kebenaran. Buktinya? Seorang manajer yang terbiasa mempraktikkan favoritisme dan memberikan bonus secara tidak adil kepada “anak emas”-nya, akan menjadi orang pertama yang berteriak tentang “nepotisme” dan “ketidakadilan” saat bonusnya sendiri dipotong secara sepihak oleh atasannya.

Demikian pula dengan “Integritas”. Menepati janji adalah sebuah kebenaran universal. Buktinya? Seorang pemimpin yang dengan mudahnya memberikan janji-janji kosong tentang promosi kepada timnya, akan menjadi orang yang paling marah dan merasa dikhianati jika seorang pemasok atau vendor penting mengingkari kontrak kepadanya.

Dan yang terakhir, “Martabat Manusia”. Menghormati martabat setiap insan adalah kebenaran universal. Buktinya? Seorang direktur yang terbiasa mempermalukan bawahannya di depan umum akan merasakan harga dirinya tercabik-cabik dan terhina saat ia diperlakukan sama oleh seorang anggota dewan komisaris.

Memulai dari Kebenaran Universal berarti seorang pemimpin harus terlebih dahulu membangun keseluruhan organisasinya, yaitu dari kebijakan, proses, hingga budaya di atas fondasi prinsip-prinsip abadi ini. Setiap “Why” atau tujuan mulia yang dirumuskan dengan cara melanggar kebenaran-kebenaran ini, betapapun terlihat menguntungkan dalam jangka pendek, pada hakikatnya adalah sebuah “bangunan” yang dibangun di atas fondasi “kepalsuan”. Ia hanya menunggu waktu untuk runtuh.

Kebenaran Komunal (Tanah – Realitas Medan Perang)

Jika Kebenaran Universal adalah “langit” yang menjadi arah moral kita, maka lapisan kedua adalah “tanah” tempat kita menancapkan kaki. Inilah Kebenaran Komunal atau Kebenaran Kontekstual. Ini adalah sebuah disiplin yang menuntut kejujuran intelektual yang brutal untuk melihat dan menerima realitas medan perang kita, mulai dari pasar, kompetitor, kondisi ekonomi, dan kapabilitas internal organisasi secara apa adanya, bukan sebagaimana yang kita harapkan.

Ayat 148 dari Surat Al-Baqarah memberikan kita sebuah isyarat yang sangat mendalam: “Bagi setiap umat ada kiblat yang dia menghadap ke arahnya…”. Ini menyiratkan bahwa setiap “umat” atau organisasi memiliki konteks, arah, dan medan perangnya sendiri yang unik. Mengabaikan kebenaran kontekstual ini dan hanya berpegang pada prinsip universal yang abstrak adalah sebuah kenaifan. Sebaliknya, hanya fokus pada konteks tanpa landasan universal adalah sebuah pragmatisme yang buta.

“Start with the Truth” di level ini adalah tentang menjadi seorang ahli strategi militer yang hebat. Sebelum merancang serangan, seorang jenderal yang cerdas akan terlebih dahulu melakukan pengintaian. Ia ingin tahu kekuatan pasukannya, kelemahan musuh, dan kondisi geografis dari medan pertempuran. Ia tidak akan pernah membuat strategi berdasarkan asumsi atau harapan. Ia membuatnya berdasarkan kebenaran di lapangan.

Dalam dunia bisnis, ini berarti kita harus secara disiplin melakukan “pengintaian”.

  • Melihat ke Luar: Kita harus secara jujur menganalisis realitas pasar. Siapa kompetitor kita yang sesungguhnya? Apa “pekerjaan yang harus diselesaikan” (Jobs-to-be-Done) oleh pelanggan kita? Tren teknologi atau sosial apa yang sedang mengubah perilaku mereka?
  • Melihat ke Dalam: Kita juga harus melakukan “audit internal” yang brutal. Apa kapabilitas kita yang benar-benar unggul, bukan hanya yang kita klaim? Di mana letak bottleneck dalam proses kita? Bagaimana kondisi arus kas kita yang sesungguhnya?

“Perangkap Why” yang idealistis seringkali gagal total di level ini. Sebuah organisasi bisa memiliki “Why” untuk “menjadi yang paling inovatif”, tetapi jika Kebenaran Komunal-nya adalah mereka tidak memiliki anggaran R&D, tidak memiliki talenta yang tepat, dan budayanya sangat takut pada risiko, maka “Why” tersebut hanyalah sebuah mimpi di siang bolong.

Sebuah contoh klasik adalah kegagalan Nokia. “Why” mereka sangat kuat: “Connecting People”. Namun, mereka gagal untuk secara jujur menerima Kebenaran Komunal yang baru: bahwa cara orang ingin “terhubung” telah bergeser dari sekadar suara menjadi data dan aplikasi di layar sentuh. Mereka terlalu lama berpegang pada kebenaran komunal masa lalu (dominasi di pasar feature phone) dan mengabaikan kebenaran komunal baru yang sedang dibentuk oleh Apple dan Google.

Oleh karena itu, seorang pemimpin yang berpijak pada Kebenaran Komunal adalah seorang pemimpin yang terobsesi dengan data dan fakta. Ia adalah orang yang paling sering bertanya di ruang rapat, “Apa buktinya? Dari mana kita tahu asumsi ini benar?”. Ia tidak takut dengan berita buruk; sebaliknya, ia justru mencarinya. Karena ia tahu, hanya dengan berpijak pada “tanah” realitas yang kokoh, kita bisa mulai menumbuhkan “pohon” yang mampu menjulang ke “langit” kebenaran universal.

Kebenaran Individual (Pohon – Otentisitas & Integritas)

Inilah kita, sang “pohon” yang tumbuh di antara “langit” Kebenaran Universal dan “tanah” Kebenaran Komunal. Lapisan ketiga dan terakhir ini adalah tentang Kebenaran Individual. Ini adalah sebuah panggilan untuk melakukan perjalanan ke dalam diri, sebuah disiplin untuk mencapai integritas, otentisitas, dan kesadaran diri (self-awareness) yang radikal.

Isyarat dari Surat Al-Baqarah ayat 149 sangatlah kuat: “Dan dari mana saja engkau keluar, maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram…”. Ayat ini menyiratkan sebuah pesan yang sangat mendalam. “Dari mana saja engkau keluar” bisa dimaknai sebagai latar belakang kita, kepribadian kita, ambisi kita, “Why” personal kita, dan semua keunikan yang membentuk diri kita. Namun, betapapun uniknya titik awal kita, kita semua memiliki tanggung jawab yang sama: untuk “memalingkan wajah” atau menyelaraskan diri (alignment) ke arah yang sama, yaitu Kebenaran Komunal dan, pada akhirnya, Kebenaran Universal.

Di sinilah letak perbedaan paling tajam dan paling fatal antara “Start with Why” yang terisolasi dengan “Start with the Truth” yang holistik. Sebuah “Why” yang hanya lahir dari Kebenaran Individual yaitu dari hasrat, ambisi, atau idealisme pribadi seorang pemimpin tanpa dijangkarkan pada realitas pasar (Kebenaran Komunal) dan prinsip etis (Kebenaran Universal), hanyalah sebuah pohon ego. Ia mungkin tumbuh sangat cepat dan terlihat indah bagi dirinya sendiri, tetapi ia adalah pohon yang rapuh. Akarnya tidak cukup dalam untuk menahan badai, dan buahnya mungkin beracun bagi ekosistem di sekitarnya.

“Start with the Truth” di level ini adalah tentang memiliki keberanian untuk bertanya kepada diri sendiri:

  • “Siapa saya sebenarnya?” Apa nilai-nilai inti yang tidak bisa saya negosiasikan? Apa kekuatan sejati saya, bukan hanya yang ingin saya proyeksikan atau wujudkan?
  • “Apa ‘panggilan jiwa’ saya?” Di mana titik temu antara keahlian terbaik saya, gairah terdalam saya, dan “masalah” di dunia yang paling ingin saya selesaikan?
  • “Apakah ada kesenjangan antara apa yang saya ucapkan dengan apa yang saya lakukan?” Ini adalah pertanyaan tentang integritas. Apakah “Why” yang saya suarakan benar-benar tercermin dalam keputusan-keputusan kecil saya setiap hari?

Seorang pemimpin HGM sejati adalah ia yang secara konstan melakukan proses penyelarasan ini. Ia tidak membuang “Why” personalnya. Sebaliknya, ia menggunakan The Truth sebagai batu uji.

Misalnya, “Why” personalnya mungkin “menciptakan produk yang akan mengubah dunia”. Lalu ia akan mengujinya. Kebenaran Komunal menunjukkan bahwa “dunia” saat ini lebih membutuhkan solusi yang berkelanjutan daripada disrupsi yang merusak. Kebenaran Universal mengingatkannya bahwa “mengubah dunia” tidak boleh dilakukan dengan cara mengeksploitasi karyawan atau merusak lingkungan.

Hasil dari penyelarasan ini bukanlah sebuah kompromi yang lemah. Justru sebaliknya. Ia melahirkan sebuah Noble Purpose yang jauh lebih kuat, lebih otentik, dan lebih matang. Ia melahirkan sebuah “pohon” yang tidak hanya indah, tetapi juga kokoh. Akarnya menghunjam dalam ke Kebenaran Komunal, batangnya lurus karena integritas Kebenaran Individual, dan dahannya menjulang untuk meraih “cahaya” Kebenaran Universal. Inilah wujud pemimpin HGM sejati.

Baca Juga: Membedah Manifesto Insan Bertumbuh (MIB)

“The Truth” sebagai Aset Paling Bernilai & Alat Asesmen

Selama abad ke-20, di Era Informasi, aset paling berharga yang bisa dimiliki oleh seorang individu atau organisasi adalah akses terhadap informasi. Siapa yang memiliki data, siapa yang memiliki pengetahuan, dialah yang akan menang. Namun, lanskap tersebut telah berubah secara fundamental dan permanen.

Di Era CUAN, kita tidak lagi hidup dalam kelangkaan informasi; kita tenggelam di dalamnya. Informasi kini telah menjadi komoditas yang murah, melimpah, dan seringkali tercemar oleh kepalsuan. Oleh karena itu, aset yang paling berharga dan paling langka saat ini bukanlah lagi informasi itu sendiri. Aset yang paling bernilai sekarang adalah kemampuan untuk memvalidasi kebenaran.

Jika “Kebenaran” adalah “emas” baru, maka talenta yang paling berharga di masa depan bukanlah lagi sekadar seorang knowledge worker. Talenta yang paling kita cari adalah seorang “Truth Seeker” atau “Pencari Kebenaran”. Mereka adalah individu-individu yang memiliki “otot” mental yang terlatih untuk membedakan antara sinyal dengan kebisingan, antara fakta dengan fiksi, antara realitas dengan narasi.

Mereka adalah orang-orang yang tidak mudah terbuai oleh cerita yang indah (G), tetapi selalu terdorong oleh rasa ingin tahu (I) untuk menggali lebih dalam hingga menemukan fondasi kebenaran (T) di baliknya. Mereka tidak takut pada data yang tidak nyaman. Justru, mereka mencarinya. Pertanyaannya kemudian menjadi sangat krusial: “Bagaimana cara kita menemukan para ‘Pencari Kebenaran’ yang langka ini saat proses rekrutmen?”.

Pertanyaan wawancara tradisional seperti “Apa kelemahan Anda?” tentu saja tidak akan berdaya. Kita membutuhkan sebuah alat asesmen baru yang dirancang khusus untuk era ini. Di HGM, kami mengembangkan sebuah metode yang kami sebut “Tes Realitas AI”. Ini bukanlah tes teknis tentang AI, tetapi tes tentang kearifan manusia dalam menghadapi produk AI.

Bayangkan skenarionya. Kita menyajikan kepada seorang kandidat tiga narasi singkat tentang sebuah keberhasilan atau kegagalan proyek. Satu narasi adalah kisah nyata yang otentik, dengan segala kerumitan dan nuansanya. Dua narasi lainnya adalah fiksi yang dibuat oleh AI generatif, di mana dirancang untuk menjadi sangat menyentuh secara emosional, logis secara argumen, dan sangat persuasif.

Tugas kandidat bukanlah sekadar menebak mana yang asli. Tugasnya adalah untuk mengartikulasikan proses berpikirnya dalam menganalisis ketiganya. Di sinilah kita bisa melihat “sistem operasi mental” mereka bekerja:

  • Apakah ia langsung terpikat pada narasi yang paling heroik dan emosional, yang paling memuaskan “rasa” dan “harapannya”? (Menandakan ia masih terjebak pada dominasi G).
  • Ataukah ia menunjukkan skeptisisme kritis yang sehat? Apakah ia mulai bertanya, “Apa asumsi di balik cerita ini? Dari mana data ini berasal? Mengapa narasi ini terasa terlalu sempurna?” (Menandakan ia mengaktifkan I dan T-nya).
  • Apakah ia mampu mengidentifikasi detail-detail kecil yang tidak konsisten dan menunjukkan di mana letak “kepalsuan” yang terasa halus?

Tes ini secara efektif mengukur Veracity dan Discernment seseorang terkait dengan dua komponen inti dari kesadaran akan Kebenaran. Ia menyaring individu yang hanya mampu merespons “Why” yang inspiratif, dan menemukan mereka yang memiliki disiplin untuk selalu memulai dari “What is The Truth?”.

Di masa depan, kita tidak lagi hanya merekrut para “ahli” di bidangnya. Kita harus mulai merekrut “ahli forensik kebenaran”. Karena di dunia yang dipenuhi oleh fatamorgana yang diciptakan oleh mesin, kemampuan untuk melihat realitas dengan jernih adalah satu-satunya superpower yang akan memastikan keberlanjutan.

SWT sebagai Prinsip Pertama (First Principle)

Setelah kita membedah Arsitektur Kebenaran dalam tiga tingkatannya, yaitu Universal, Komunal, dan Individual, maka kita sampai pada sebuah kesimpulan yang tak terhindarkan dan radikal: Kebenaran (The Truth) bukanlah sekadar “salah satu” nilai penting di antara nilai-nilai lainnya. Ia adalah Prinsip Pertama (First Principle). Ia adalah fondasi dari segala fondasi, sebuah postulat dasar yang tidak bisa diturunkan dari hal lain, karena semua hal lain justru diturunkan darinya.

Ini membawa kita pada sebuah hierarki kesadaran yang sangat penting dalam filosofi HGM dan siklus TCM-GIK. Hierarki ini menyatakan bahwa Kebenaran berada di atas Kehendak. Pilar T (The Truth) harus selalu mendahului dan menjadi pemandu bagi pilar G (Generosity/Niat/Motivasi/Why).

Apa artinya ini secara brutal? Artinya, The Truth berada di atas motif kita, di atas harapan kita, di atas keinginan kita, dan bahkan di atas “Why” kita yang paling mulia sekalipun. Kita tidak bisa “menginginkan” sebuah realitas menjadi ada hanya karena niat kita baik. Kita hanya bisa menyelaraskan keinginan dan niat kita dengan realitas dan Kebenaran yang sudah ada, yang telah ditetapkan oleh-Nya (SWT).

Di sinilah kita menemukan perbedaan kekuatan yang paling fundamental antara “Start with Why” dengan “Start with the Truth”. “Why” yang lahir dari niat (G) adalah sebuah push force (daya dorong). Ia membakar semangat dari dalam, mendorong kita dan tim kita untuk bergerak maju. Ini sangat kuat, tetapi seperti semua mesin pendorong, ia membutuhkan bahan bakar yang terus-menerus (motivasi, inspirasi) dan bisa kehabisan energi saat dihadapkan pada kesulitan yang berat seperti di Era CUAN ini.

The Truth, di sisi lain, adalah sebuah pull force (daya tarik). Ia seperti sebuah magnet raksasa atau sebuah pusat gravitasi alam semesta. Ia tidak perlu berteriak, tidak perlu memotivasi, tidak perlu mendorong. Sifatnya yang otentik, kokoh, dan tak tergoyahkan akan secara alami menarik sumber daya, talenta, dan kepercayaan terbaik ke arahnya. Orang-orang tidak mengikutinya karena “didorong”, mereka mengikutinya karena mereka “tertarik” pada kebenarannya.

Implikasinya bagi seorang pemimpin sangatlah besar. Pemimpin yang beroperasi dari “Why” akan menghabiskan banyak energinya untuk terus-menerus “mendorong” dan “memotivasi” timnya agar apinya tidak padam. Sebaliknya, pemimpin yang beroperasi dari The Truth (SWT) akan menghabiskan energinya untuk menjadi perwujudan dari kebenaran itu sendiri. Dengan menjadi otentik, berintegritas, dan jujur secara radikal, ia tidak lagi perlu banyak mendorong. Ia telah menjadi “magnet” yang secara alami menarik komitmen dan loyalitas yang paling dalam dari orang-orang di sekitarnya.

Ini bukan berarti “Why” tidak penting. Justru, “Why” yang paling kuat adalah yang lahir setelah kita berpijak pada The Truth. Ia lahir dari pernikahan sakral antara pilar T dengan pilar G. The Truth memberikan “tanah” yang kokoh. The Why adalah “niat” untuk menanam pohon di tanah tersebut. Sebuah “Why” yang lahir dari sintesis ini tidak lagi hanya sebuah inspirasi manusiawi; ia adalah sebuah niat manusia yang telah selaras dengan cara kerja alam semesta.

Oleh karena itu, “Start with the Truth” bukanlah sebuah pilihan atau sebuah strategi alternatif. Bagi para pemimpin yang ingin membangun sesuatu yang tidak hanya akan berhasil dalam jangka pendek, tetapi juga akan bertahan abadi dan selaras dengan hukum alam, ia adalah satu-satunya titik awal yang logis, strategis, dan spiritual.


4. Sintesis Baru – Pernikahan Sakral antara “Truth” dan “Why”

Setelah melakukan perjalanan “uji benturan” yang tajam dan terkadang brutal, mungkin akan muncul sebuah kesan bahwa kita harus memilih: antara “Why” yang inspiratif atau “Truth” yang realistis. Ini adalah sebuah jebakan pemikiran biner yang sangat berbahaya. Dunia tidak beroperasi dalam warna hitam dan putih, dan kepemimpinan yang bijaksana tidak pernah tentang memilih satu ekstrem dan membuang yang lain.

Tujuan dari semua dekonstruksi yang kita lakukan di bagian sebelumnya bukanlah untuk menihilkan kekuatan “Why” yang digagas oleh Simon Sinek. Tujuan kita adalah untuk memurnikannya. Untuk melepaskannya dari kerapuhan idealisme, dan memberikannya sebuah fondasi yang tak tergoyahkan.

Bagian ini adalah tentang sintesis. Ini adalah tentang bagaimana kita mengambil dua kekuatan yang tampaknya bertentangan, yaitu “hati” (Why/G) dan “jiwa” (Truth/T), serta menyatukannya dalam sebuah “pernikahan sakral”. Sebuah penyatuan yang akan melahirkan Noble Purpose yang tidak hanya mampu menginspirasi, tetapi juga mampu bertahan di tengah badai realitas yang paling ganas sekalipun.

Di sini kita akan membedah bagaimana urutan yang benar, yaitu memulai dari The Truth terlebih dahulu justru akan menjadi landasan peluncuran yang paling kokoh bagi sebuah “Why” untuk bisa terbang lebih tinggi dan lebih jauh. Mari kita jelajahi arsitektur dari sintesis agung ini.

Melampaui Dikotomi, Menuju Sintesis

Perdebatan klasik dalam kepemimpinan seringkali terjebak dalam sebuah dikotomi yang melelahkan: haruskah kita menjadi seorang realis yang pragmatis, atau seorang idealis yang inspiratif? Haruskah kita fokus pada “apa adanya” (The Truth) atau pada “apa yang seharusnya” (The Why)? Perdebatan ini lahir dari cara berpikir biner yang melihat “otak” dan “hati” sebagai dua entitas yang saling bersaing.

Namun, di Era CUAN yang kompleks dan ambigu, cara berpikir “pilih salah satu” ini adalah sebuah kemewahan yang tidak lagi kita miliki. Seorang pemimpin yang hanya realis akan menjadi seorang sinis yang tidak mampu menggerakkan orang lain. Sebaliknya, seorang pemimpin yang hanya idealis akan menjadi seorang pemimpi naif yang akan dihancurkan oleh gelombang realitas pertama.

Tujuan dari semua dekonstruksi yang kita lakukan di bagian sebelumnya bukanlah untuk menihilkan kekuatan “Why” yang digagas oleh Simon Sinek. Itu akan menjadi sebuah kesimpulan yang dangkal. Tujuan kita adalah untuk memurnikannya. Untuk melepaskannya dari kerapuhan idealisme yang terisolasi, dan memberikannya sebuah fondasi yang tak tergoyahkan.

Bagian ini adalah tentang sintesis. Ini adalah tentang bagaimana kita mengambil dua kekuatan yang tampaknya bertentangan, yaitu Kebenaran (T) yang seringkali terasa “dingin” dan Niat (G) yang terasa “hangat” serta dan menyatukannya dalam sebuah “pernikahan sakral”. Sebuah penyatuan yang akan melahirkan Noble Purpose yang tidak hanya mampu menginspirasi, tetapi juga mampu bertahan di tengah badai realitas yang paling ganas sekalipun.

Ini adalah sebuah panggilan untuk melampaui dikotomi. Ini adalah undangan untuk menjadi seorang pemimpin yang utuh, yang mampu melihat dunia dengan kejernihan seorang ilmuwan, dan di saat yang sama, mampu merasakan dunia dengan hasrat seorang seniman. Karena hanya dengan menyatukan keduanya, kita bisa mulai membangun sesuatu yang benar-benar agung dan abadi.

Urutan yang Benar: Fondasi (T) Dulu, Baru Tembok (G)

Setelah kita sepakat bahwa Kebenaran dan Niat harus bersatu, pertanyaan berikutnya yang sangat krusial adalah tentang urutan. Mana yang harus datang lebih dulu? Apakah kita memulai dari “Why” yang menginspirasi, lalu mencari fakta untuk mendukungnya? Ataukah kita memulai dari fakta yang terkadang pahit, lalu dari sanalah sebuah “Why” yang otentik lahir?

Jawaban atas pertanyaan ini adalah pembeda paling fundamental antara pendekatan lama dengan filosofi HGM. Untuk memahaminya, mari kita gunakan analogi yang sangat sederhana namun sangat kuat: membangun rumah.

Tidak ada arsitek waras di dunia ini yang akan memulai pembangunan sebuah gedung pencakar langit dengan cara membangun atapnya terlebih dahulu di udara, lalu berharap fondasinya akan muncul secara ajaib. Setiap pembangun yang bijaksana tahu bahwa pekerjaan pertama, yang paling sulit, paling tidak glamor, namun paling menentukan, adalah menggali tanah dan meletakkan fondasi.

Dalam analogi ini, “Start with Why” yang berdiri sendiri adalah sebuah upaya untuk membangun “dinding dan atap” (G) yang indah terlebih dahulu. Seorang pemimpin, penuh dengan semangat dan niat baik, mendeklarasikan sebuah visi yang megah dan menginspirasi, lalu mengajak semua orang untuk membangunnya bersama. Ini adalah tindakan yang terasa heroik. Namun, jika tidak didahului oleh analisis fondasi, ini adalah sebuah tindakan arogansi intelektual dan spiritual, sebuah keyakinan naif bahwa kekuatan niat kita saja cukup untuk menaklukkan hukum gravitasi dan realitas.

Pendekatan “Start with the Truth” (SWT), di sisi lain, menuntut sebuah disiplin yang berbeda. Ia mengajarkan kita bahwa pekerjaan pertama seorang pemimpin bukanlah sebagai seorang “motivator”, tetapi sebagai seorang “ahli geologi” dan “insinyur sipil”. Tugas pertamanya adalah pekerjaan menggali, bukan pekerjaan melukis. Ia harus memiliki keberanian untuk turun ke “tanah”, memeriksa realitas Kebenaran Komunal (kondisi pasar, kapabilitas tim), dan menggali lebih dalam hingga menemukan “batu karang” dari Kebenaran Universal (prinsip etis dan moral).

Hanya setelah fondasi (T) yang kokoh ini terpasang, barulah kita memiliki pijakan yang solid untuk mulai mendirikan “dinding” niat dan “atap” inspirasi (G). Sebuah “Why” yang lahir dari proses ini akan memiliki karakter yang sama sekali berbeda. Ia bukanlah sebuah mimpi yang rapuh, melainkan sebuah tujuan yang membumi (a grounded purpose).

“Why” yang lahir dari sintesis Formula T+G ini tidak hanya akan terdengar inspiratif, tetapi juga akan terasa bisa dipercaya (believable) dan bisa dijalankan (achievable). Mengapa? Karena setiap insan di dalam organisasi tahu bahwa “Why” tersebut tidak lahir dari ruang hampa idealisme, tetapi lahir dari rahim pemahaman yang mendalam terhadap realitas. Kepercayaan mereka tidak lagi hanya pada “karisma” pemimpin, tetapi pada “kebijaksanaan” dari fondasi yang telah dibangun bersama.

Oleh karena itu, mari kita tegaskan prinsip ini. The Truth adalah pertanyaan tentang “Apa Adanya”. The Why adalah pertanyaan tentang “Apa yang Kita Inginkan”. Kebijaksanaan sejati, baik dalam hidup maupun dalam bisnis, adalah kemampuan untuk memiliki keberanian melihat “Apa Adanya” secara penuh, sebelum kita berani menyatakan “Apa yang Kita Inginkan”.

Memulai dengan T adalah disiplin. Memulai dengan G adalah semangat. Di Era CUAN, semangat tanpa disiplin adalah sebuah resep untuk kehancuran.

Formula Noble Purpose yang Tak Terkalahkan: T + G

Setelah kita memahami urutan yang benar, yaitu bahwa Kebenaran harus menjadi fondasi bagi Niat, maka kini kita bisa merumuskan sebuah “formula” konseptual yang menjadi jantung dari kepemimpinan HGM. Ini bukanlah sebuah rumus matematis yang kaku, melainkan sebuah formula alkimia spiritual dan strategis. Sebuah proses untuk mengubah “logam biasa” berupa ide bisnis menjadi “emas” berupa Tujuan Mulia yang tak terkalahkan.

Formula itu sederhana namun sangat kuat:

The Truth (T) + The Why (G) = The Unbeatable Noble Purpose

– mbahDon

Mari kita bedah setiap komponen dari formula agung ini.

The Truth (T), dalam formula ini, berfungsi sebagai “Wadah” atau “Bumi”. Ia adalah elemen yang memberikan kredibilitas, kekuatan, dan daya tahan pada tujuan kita. Ia adalah jawaban atas pertanyaan “Apakah ini nyata dan bisa dijalankan?”. The Truth memastikan bahwa tujuan mulia kita tidak mengawang-awang di langit idealisme, tetapi memiliki akar yang kuat menghunjam ke dalam tanah realitas: entah itu realitas pasar, realitas kapabilitas, realitas kemanusiaan, hingga yang tertinggi, yaitu realitas Kebenaran Universal dari Sang Pencipta (SWT). Tanpa The Truth, Noble Purpose kita hanyalah sebuah mimpi yang rapuh.

The Why (G), di sisi lain, berfungsi sebagai “Api” atau “Langit”. Ia adalah elemen yang memberikan energi, daya tarik emosional, dan kekuatan untuk menginspirasi. Ia adalah jawaban atas pertanyaan “Mengapa ini penting dan layak diperjuangkan?”. The Why memastikan bahwa tujuan kita tidak hanya logis, tetapi juga mampu menyentuh hati, membangkitkan semangat (motivation), dan menggerakkan jiwa (conviction). Tanpa The Why, Noble Purpose kita mungkin akan sangat benar dan realistis, tetapi terasa dingin, kosong, dan tidak akan mampu menggerakkan satu orang pun untuk berkorban.

Sebuah tujuan yang hanya punya T akan menjadi sebuah laporan analisis pasar yang akurat tetapi tidak menginspirasi. Sebuah tujuan yang hanya punya G akan menjadi sebuah pidato motivasi yang membakar semangat tetapi akan padam saat dihadapkan pada realitas pertama.

Noble Purpose yang tak terkalahkan lahir hanya ketika kedua elemen ini bersatu dalam sebuah pernikahan sakral. Ia adalah sebuah tujuan yang sekaligus membumi dan melangit. Ia adalah sebuah visi yang sangat realistis tentang tantangan yang ada di depan mata, namun juga sangat inspiratif tentang puncak gunung yang bisa kita raih bersama.

Pemimpin yang mampu merumuskan purpose seperti ini akan memiliki kekuatan yang luar biasa. Saat berbicara dengan timnya, ia bisa berkata: “Saya tahu, The Truth-nya adalah pasar kita sedang sulit, kompetitor kita brutal, dan kapabilitas kita masih terbatas. Namun, The Why kita untuk membantu para UKM agar bisa bertahan dan bertumbuh di zaman ini jauh lebih besar dari semua kesulitan itu. Mari kita hadapi kebenaran pahit ini dengan semangat yang mulia. Akan ada balasan pahala dan kemudahan yang menanti kita.

Narasi seperti ini tidak akan pernah bisa diciptakan oleh AI. Ia hanya bisa lahir dari seorang pemimpin yang telah melalui proses perenungan yang mendalam, yang memiliki keberanian untuk menatap realitas (T) dan di saat yang sama memiliki ketulusan niat (G). Inilah formula untuk menciptakan sebuah tujuan yang tidak hanya akan membawa organisasi pada kesuksesan, tetapi juga pada kebermaknaan.

Analogi Pamungkas: Landasan Peluncuran dan Bahan Bakar Roket

Untuk benar-benar memahami hubungan sakral antara The Truth dan The Why, mari kita gunakan satu analogi terakhir yang paling kuat dan paling presisi: peluncuran sebuah roket ke luar angkasa.

Dalam petualangan yang sangat ambisius ini, ada dua komponen yang mutlak diperlukan: bahan bakar yang memberikan daya dorong, dan landasan peluncuran yang memberikan stabilitas dan arah. Keduanya sangat penting, tetapi urutannya tidak bisa ditawar.

“Start with Why” adalah Bahan Bakar Roket (G). Ia adalah hidrogen cair yang sangat mudah meledak, penuh dengan energi, gairah, dan potensi yang luar biasa. Ia adalah kekuatan yang mampu melawan gravitasi, daya dorong yang mampu mengangkat ribuan ton logam dari bumi menuju bintang-bintang. Tanpa bahan bakar yang kuat ini, roket kita hanyalah sebuah tumpukan besi yang dingin, diam, dan tak bernyawa. Kekuatan “Why” dalam menginspirasi dan mendorong tidak bisa kita remehkan.

“Start with the Truth” (SWT), di sisi lain, adalah Landasan Peluncuran (T). Ia tidak terlihat glamor. Ia tidak meledak-ledak. Pekerjaannya adalah pekerjaan yang sunyi, presisi, dan seringkali membosankan. Ia adalah tentang melakukan analisis struktur tanah, menghitung kekuatan beton, memastikan setiap baut terpasang dengan benar, mempelajari ramalan cuaca, dan memahami hukum fisika yang tak kenal kompromi. Ia adalah tentang memastikan keseluruhan struktur selaras dengan Kebenaran alam semesta.

Sekarang, mari kita lakukan uji benturan terakhir yang paling brutal. Apa yang terjadi jika seorang pemimpin yang naif dan tidak sabar, yang terobsesi hanya dengan kekuatan “bahan bakar” (Why), memutuskan untuk menyalakan mesin roketnya di atas sebuah landasan yang rapuh (Truth yang diabaikan)?

Ia tidak akan mendapatkan sebuah peluncuran yang spektakuler menuju angkasa. Ia akan mendapatkan sebuah ledakan dahsyat di landasan pacu. Sebuah tragedi yang tidak hanya menghancurkan roket itu sendiri, tetapi juga landasannya, dan semua orang di sekitarnya. Inilah nasib dari niat baik yang tidak berpijak pada realitas.

Sebaliknya, apa yang terjadi jika kita memiliki landasan paling kokoh di dunia tetapi tidak ada bahan bakar di dalam roketnya? Kita akan memiliki sebuah monumen yang sunyi dan mengesankan. Sebuah struktur yang sempurna secara teknis, tetapi tidak pernah pergi ke mana-mana dan tidak pernah memberikan dampak apa-apa.

Seorang pemimpin HGM sejati, seorang “insinyur” peluncuran yang bijaksana, memahami urutan sakral ini. Ia akan mendedikasikan sebagian besar waktunya untuk melakukan pekerjaan yang sunyi dan tidak terlihat: membangun dan memvalidasi landasan The Truth (SWT). Ia akan memastikan bahwa pijakannya kokoh, visinya realistis, dan rencananya selaras dengan hukum alam.

Baru setelah itu, setelah ia yakin landasannya benar-benar siap, ia akan dengan penuh percaya diri mengisi roketnya dengan “bahan bakar” Why yang paling kuat dan menyalakan apinya. Karena ia tahu, daya dorong yang paling dahsyat hanya akan aman dan berguna jika ia disalurkan melalui sebuah struktur yang berakar pada Kebenaran yang paling hakiki.

Evolusi Golden Circle: Memperkenalkan “The Golden Spiral”

Setelah kita memahami bahwa The Truth (T) harus menjadi fondasi bagi The Why (G), dan bahwa keduanya harus bersatu dalam sebuah pernikahan sakral, kita sampai pada sebuah konsekuensi logis yang sangat indah. Jika Simon Sinek memberikan kita sebuah model yang sangat kuat bernama Golden Circle, maka sintesis T + G ini akan secara alami melahirkan sebuah evolusi dari model tersebut.

Diagram The Golden Circle
The Golden Circle – Simon Sinek

Golden Circle, dengan tiga lapisannya (Why → How → What), adalah sebuah peta yang sangat hebat untuk memahami arsitektur inspirasi. Ia secara brilian memetakan bagaimana para pemimpin besar berkomunikasi dari dalam ke luar. Namun, seperti yang telah kita bedah, di Era CUAN, model yang hanya berpusat pada niat manusia ini terasa tidak lagi lengkap. Ia memiliki dua “lubang” fundamental: ia tidak memiliki “jangkar kebenaran” di awalnya, dan ia tidak memiliki “mekanisme pembelajaran” di akhirnya.

Oleh karena itu, kami di Sarastya mengembangkan sebuah model baru yang lebih holistik dan dinamis, yang secara sadar melengkapi dua lubang tersebut. Kami menyebutnya “The Golden Spiral”.

The Golden Spiral by Sarastya Agility Innovation
The Golden Spiral – mbahDon

The Golden Spiral bukanlah sebuah penolakan terhadap Golden Circle. Ia adalah sebuah penghormatan yang mengangkatnya ke level berikutnya. Ia mengubah sebuah lingkaran yang statis menjadi sebuah spiral pertumbuhan yang dinamis, dengan menambahkan dua lapisan pertanyaan yang paling fundamental. The Golden Spiral mengikuti kaidah siklus TCM-GIK, yaitu (T→ G → I→ K) → (R) → (Pembelajaran) → (Kebangkitan Kembali) → siklus berikutnya.

Perjalanan dalam The Golden Spiral adalah sebuah siklus penciptaan makna yang utuh, yang terdiri dari lima pertanyaan dalam urutan yang sangat presisi:

  1. WHOSE (Kebenaran Siapa?): Ini adalah jantung dari spiral, pilar T kita. Sebelum kita bertanya “Mengapa?”, kita harus terlebih dahulu bertanya, “Atas dasar kebenaran siapa kita akan bertindak?”. Apakah ini hanya kebenaran personal saya? Kebenaran komunal tim saya? Ataukah ini adalah sebuah kebenaran yang telah kita selaraskan dengan Kebenaran Universal (SWT)? Lapisan ini memberikan “jangkar” yang kokoh bagi seluruh siklus.
  2. WHY (Mengapa?): Setelah kita berpijak pada kebenaran yang kokoh, barulah kita bisa bertanya tentang “Mengapa?”. Ini adalah pilar G kita. Dari pemahaman kita akan kebenaran, niat tulus dan tujuan mulia apa yang lahir? Lapisan ini memberikan “bahan bakar” emosional dan inspirasi.
  3. HOW (Bagaimana?): “Why” yang mulia itu kemudian diterjemahkan menjadi “Bagaimana”. Ini adalah pilar I kita. Bagaimana prinsip, strategi, dan blueprint cerdas yang akan kita gunakan untuk mewujudkan “Why” tersebut? Lapisan ini memberikan “arsitektur” dan “kecerdasan” pada ikhtiar kita.
  4. WHAT (Apa?): Dari “Bagaimana”, lahirlah “Apa”. Ini adalah pilar K kita. Apa tindakan nyata, produk, atau layanan yang akan kita ciptakan sebagai manifestasi dari strategi kita? Lapisan ini adalah tentang eksekusi yang disiplin dan nyata.
  5. WHAT IMPACT (Dampak Apa?): Dan setelah kita bertindak, kita tidak berhenti. Kita mengukur lapisan terluar, yaitu “Dampak Apa?”. Ini adalah pilar R kita. Apa dampak atau hasil nyata yang diciptakan oleh tindakan kita, baik positif maupun negatif? Lapisan ini menutup satu siklus dan secara alami menjadi “bahan baku” untuk Fase Pembelajaran, yang kemudian akan mempertajam kembali WHOSE (Kebenaran) kita di siklus spiral berikutnya yang lebih tinggi.

Dengan The Golden Spiral, kita tidak lagi hanya memiliki sebuah model komunikasi yang inspiratif. Kita memiliki sebuah sistem operasi penciptaan nilai yang lengkap, yang terus belajar dan berevolusi. Ia memastikan bahwa setiap tindakan kita tidak hanya didasari oleh niat yang baik, tetapi juga berpijak pada kebenaran yang kokoh dan selalu diakhiri dengan pembelajaran yang bijaksana.

Lahirnya Pemimpin Realis-Visioner

Perjalanan kita dalam membedah dan menyatukan kembali The Truth dan The Why pada akhirnya membawa kita pada satu muara: yaitu lahirnya sebuah arketipe kepemimpinan baru yang paling dibutuhkan untuk menaklukkan Era CUAN. Era yang ganas ini secara brutal telah mempensiunkan dua jenis pemimpin dari masa lalu: Sang Manajer Pragmatis yang hanya bisa mengoptimalkan mesin yang ada, dan Sang Visioner Naif yang hanya bisa menjual mimpi tanpa pijakan.

Dunia tidak lagi memiliki kemewahan untuk dipimpin oleh mereka yang hanya bisa melihat “tanah” atau hanya bisa menatap “langit”. Dari abu kedua arketipe usang tersebut, kini lahir sebuah model kepemimpinan yang lebih utuh, lebih tangguh, dan lebih bijaksana: Sang Realis-Visioner.

Ini bukanlah sebuah jalan tengah atau kompromi. Ini adalah sebuah sintesis di level yang lebih tinggi. Seorang Realis-Visioner adalah seorang pemimpin yang mampu menari dengan indah di antara dua dunia: dunia kebenaran yang brutal dan dunia harapan yang mulia.

Sisi Realis-nya adalah perwujudan dari disiplin “Start with the Truth (SWT)”. Ia memiliki keberanian seorang ksatria untuk menatap realitas yang paling pahit, baik itu tentang kondisi pasar, kelemahan internal organisasi, maupun keterbatasan dirinya sendiri tanpa berkedip. Kakinya selalu menancap kuat di atas “tanah” Kebenaran Komunal yang faktual, dan seluruh tindakannya selalu berlabuh pada “sauh” Kebenaran Universal yang etis dan spiritual. Ia tidak akan pernah membiarkan harapan atau ego membutakannya dari realitas.

Namun, ia tidak berhenti di sana. Setelah berpijak pada realitas yang kokoh, barulah sisi Visioner-nya mengambil alih. Visinya, atau “Why”-nya (G), bukanlah sebuah fantasi yang lahir dari ruang hampa. Visinya adalah sebuah “jawaban yang bertanggung jawab” atas kebenaran yang telah ia lihat. Ia melihat kerasnya realitas, lalu dengan kecerdasan (I) dan semangat (G) ia bertanya, “Melihat semua ini, lalu kebaikan apa yang bisa kita ciptakan? Peluang apa yang tersembunyi di balik tantangan ini?”.

“Why” yang ia suarakan menjadi sangat kuat, bukan karena ia yang paling bombastis, tetapi karena ia yang paling otentik dan relevan. Timnya akan percaya padanya, bukan karena karismanya semata, tetapi karena mereka tahu bahwa visi yang ia tawarkan telah melalui “uji benturan” dengan realitas yang paling keras.

Pada akhirnya, seorang Realis-Visioner adalah perwujudan sempurna dari metafora “Petani” dalam HGM. Ia adalah seorang ahli geologi yang memahami kualitas tanah (T) sebelum ia menjadi seorang seniman yang memimpikan keindahan panen (G). Inilah panggilan bagi kita semua. Berhenti memilih antara menjadi seorang idealis atau seorang realis. Mulailah perjalanan untuk menjadi keduanya. Mulailah dengan The Truth (SWT). Itulah satu-satunya jalan untuk melahirkan sebuah “Why” yang pantas untuk diperjuangkan dan mampu bertahan abadi.

Komparasi Kritis: “Start with Why” vs. “Start with the Truth”

Untuk mempertajam pemahaman kita dan melihat secara berdampingan betapa fundamentalnya pergeseran yang kita usulkan, mari kita letakkan kedua kerangka berpikir ini di atas sebuah “meja bedah” intelektual. Tabel berikut bukanlah sekadar ringkasan. Ia adalah sebuah cermin diagnostik bagi Anda, para pemimpin, untuk bertanya: “Di dunia mana saya dan organisasi saya sebenarnya sedang beroperasi hari ini? Apakah saya masih menggunakan prinsip dari dunia yang telah lama hilang?”

Kriteria AnalisisParadigma “Start with Why” (SWY)Paradigma “Start with the Truth” (SWT)
Prinsip Pertama (First Principle)Why / Niat (G): Dimulai dari tujuan dan keyakinan internal.Truth / Kebenaran (T): Dimulai dari pemahaman realitas yang jujur (Universal, Komunal, Individual).
Filosofi IntiInspirasi dari Dalam ke Luar: Menemukan “mengapa” di dalam diri, lalu mengkomunikasikannya untuk menggerakkan orang lain.Penyelarasan dengan Realitas: Menemukan kebenaran di luar dan di dalam diri, lalu merumuskan “mengapa” yang selaras.
Penggerak UtamaEmosi & Keyakinan Personal: Kekuatannya terletak pada kemampuan untuk membangkitkan semangat dan loyalitas melalui kesamaan nilai.Prinsip & Fakta: Kekuatannya terletak pada fondasi yang kokoh, di atas prinsip universal dan data faktual, yang kemudian dijiwai oleh niat.
Peran Pemimpin“Chief Inspiration Officer”: Tugas utamanya adalah menjadi sumber inspirasi dan motivator.“Realis-Visioner”: Tugas utamanya adalah menjadi pencari kebenaran yang brutal sekaligus perumus visi yang bijaksana.
Kerentanan UtamaRapuh terhadap Realitas Brutal: Bisa menjadi “Perangkap Why”, naif, dan di Era CUAN, Multi-Generasi, Core Skills 2030, dan AI, otentisitasnya bisa dipalsukan.Menuntut Kerendahan Hati: Sangat sulit bagi pemimpin yang memiliki ego besar untuk menerima kebenaran yang tidak sesuai dengan keinginannya.
Konteks Era IdealEra Complex (dunia yang masih bisa dipahami; periode 2000-2020): Di mana inspirasi adalah pembeda utama.Era CUAN (dunia yang kacau; periode 2020-Kini): Di mana berpijak pada kebenaran adalah syarat utama untuk bertahan hidup.
Model VisualGolden Circle (Statis): Sebuah arsitektur komunikasi yang berpusat pada “Why”.The Golden Spiral (Dinamis & Evolusioner): Sebuah siklus penciptaan nilai yang dimulai dari Truth (Whose) dan terus berputar.
InisiatorSimon SinekmbahDon

Tabel ini secara brutal menunjukkan bahwa beroperasi hanya dengan mindset “Start with Why” di Era CUAN adalah seperti seorang kapten kapal yang dengan sangat bersemangat memberikan pidato inspiratif kepada krunya, tanpa terlebih dahulu memeriksa peta cuaca atau kondisi lambung kapalnya. Semangatnya mungkin membara, tetapi kapalnya sedang berlayar lurus menuju badai dan gunung es.


5. Sebuah Panggilan untuk Pemimpin agar Kembali Kepada Sumber

Kita telah melakukan sebuah perjalanan yang menantang. Sebuah perjalanan yang dimulai dengan penghormatan tulus pada kekuatan “Why” yang mampu menggerakkan hati, hingga dengan jujur dan terkadang brutal membedah kerapuhannya saat dihantam oleh badai Era CUAN. Tujuan kita bukanlah untuk meruntuhkan sebuah ide yang hebat, melainkan untuk membangun sebuah ide yang lebih kokoh di atasnya.

Perjalanan ini telah membawa kita pada sebuah sintesis baru, sebuah “pernikahan sakral” antara Kebenaran (T) dengan Niat (G). Dari pernikahan inilah lahir sebuah arketipe pemimpin baru yang paling dibutuhkan oleh zaman ini: Sang Realis-Visioner. Seseorang yang memiliki keberanian seorang realis untuk menatap kebenaran yang paling pahit, sekaligus memiliki keyakinan seorang visioner untuk membangun harapan termulia dari realitas tersebut.

Pada akhirnya, mengapa kita bersikeras bahwa seorang pemimpin harus memulai dari The Truth (SWT)? Apakah ini hanya tentang strategi bisnis yang lebih baik? Atau tentang mitigasi risiko yang lebih cerdas? Tentu, itu adalah sebagian dari jawabannya. Tetapi ada sebuah alasan yang jauh lebih dalam, lebih fundamental, dan lebih menyentuh esensi kita sebagai manusia.

Memilih untuk “Start with the Truth” adalah sebuah tindakan kerendahan hati (humility) yang paling mendasar. Ia adalah sebuah pengakuan jujur bahwa “Why” kita, seberapa pun mulianya, hanyalah sebuah percikan kecil dalam sebuah desain alam semesta yang jauh lebih agung. Ia adalah kesadaran bahwa kehendak dan pemahaman kita sebagai manusia sangatlah terbatas. Ia adalah keberanian untuk melepaskan ego kita yang ingin “menciptakan” makna, dan menggantinya dengan kesabaran untuk “menemukan” makna yang telah ada.

Ini adalah sebuah disiplin untuk melakukan penyelarasan (alignment). Sebuah upaya terus-menerus untuk menyelaraskan kebenaran kecil kita dengan Kebenaran Agung yang menjadi sumber dari segala sesuatu. Dengan melakukan ini, “Why” yang kita jalani tidak lagi hanya menjadi tujuan personal atau tujuan perusahaan. Ia bertransformasi menjadi bagian dari sebuah tujuan yang lebih besar, yang memberikannya kekuatan dan ketahanan yang tidak akan pernah bisa goyah.

Maka, izinkan saya menutup perenungan ini dengan meninggalkan satu pertanyaan untuk Anda bawa. Pertanyaan ini bukanlah lagi “Apa ‘Why’ Anda?”. Pertanyaan itu penting, tetapi ada pertanyaan lain yang harus mendahuluinya.

Pertanyaan itu adalah:

Sudahkah “Why” Anda bersujud pada The Truth?

Di dalam jawaban atas pertanyaan itulah, letak dari kepemimpinan yang sejati, yang tidak hanya akan berhasil, tetapi juga akan diridhai.

Salam,

mbahDon, Start with the Truth

Scroll to Top