VUCA Sudah Usang: Selamat Datang di Era CUAN

Kebutuhan Mendesak akan “Bahasa” Baru

Selama hampir tiga dekade, ada satu akronim yang menjadi “mantra suci” bagi para pemimpin, konsultan, dan akademisi di seluruh dunia untuk menjelaskan realitas bisnis yang semakin rumit: VUCA. Lahir dari U.S. Army War College untuk menggambarkan dunia pasca-Perang Dingin, yaitu VUCA dengan pilar-pilarnya: Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity. VUCA adalah sebuah kerangka kerja yang brilian pada masanya. Ia berhasil memberikan kita “bahasa” untuk memahami dunia yang tidak lagi linear dan bisa diprediksi. Kita harus memberikan penghormatan yang setinggi-tingginya pada VUCA.

Namun, di sinilah letak bahaya yang tersembunyi. Sesuatu yang tadinya merupakan lensa yang tajam, kini telah berubah menjadi “selimut yang nyaman”. VUCA telah menjadi kata sakti yang terlalu sering kita gunakan untuk menjustifikasi kegagalan kita dalam beradaptasi. Saat target tidak tercapai, kita berkata, “maklum, dunianya sedang VUCA.” Saat strategi kita usang, kita berlindung di balik kalimat, “karena kondisi VUCA yang tidak menentu.” Istilah ini, alih-alih menjadi pemicu aksi, justru seringkali menjadi alasan untuk pasrah pada keadaan.

Kemudian, datanglah “badai sempurna” yang dimulai pada tahun 2020. Sebuah kombinasi antara pandemi global yang mengunci peradaban dan ledakan Kecerdasan Buatan (AI) yang eksponensial setelahnya. Kedua peristiwa ini bukanlah sekadar “peningkatan” dari kondisi VUCA. Mereka tidak hanya membuat ombak menjadi lebih besar; mereka mengubah fundamental dari lautan itu sendiri. Mereka merobek peta lama kita dan melemparkannya ke dalam api.

Inilah kebenaran yang tidak nyaman, yang mungkin akan menampar logika kita yang sudah terbiasa dengan zona nyaman intelektual: Terus-menerus menggunakan lensa VUCA untuk melihat dunia saat ini bukan hanya tidak akurat; itu berbahaya. Mengapa berbahaya? Karena ia membuat kita fokus pada “gejala”, seperti volatilitas harga atau ketidakpastian pasar, dan membuat kita buta terhadap “penyakit” yang sesungguhnya: yaitu munculnya tantangan-tantangan yang sama sekali baru (Novelty), yang tidak memiliki preseden atau referensi dalam sejarah manusia dan tidak bisa diselesaikan dengan cara-cara lama.

Jika diagnosis kita salah, maka resep obat kita pasti akan keliru. Kita tidak bisa menyembuhkan penyakit baru dengan obat lama. Oleh karena itu, kita membutuhkan sebuah bahasa baru, sebuah kacamata baru yang lebih presisi untuk mendeskripsikan realitas yang kita hadapi saat ini. Artikel ini akan memperkenalkan bahasa tersebut, yaitu CUAN (Chaotic, Uncertainty, Ambiguity, Novelty). Sebuah kerangka berpikir yang dirancang bukan hanya untuk bertahan di tengah badai, namun juga untuk memiliki keberanian menari di dalamnya dan menemukan peluang yang tersembunyi.


Lompatan Kuantum: Mengapa VUCA Tidak Lagi Cukup?

Sebelum kita bisa merangkul sebuah bahasa baru, kita harus terlebih dahulu memiliki keberanian intelektual untuk melakukan “otopsi” terhadap bahasa lama yang telah begitu mendarah daging dalam pemikiran kita. Kita harus menghormati VUCA dengan cara memberinya kritik yang paling tajam. Kita harus membedahnya, bukan untuk menghancurkannya, tetapi untuk memahami secara fundamental di mana letak “garis retak”-nya saat dihadapkan pada realitas zaman ini.

Perbedaan antara Era VUCA dan Era CUAN (Chaotic, Uncertainty, Ambiguity, Novelty) dalam manajemen strategis modern
CUAN

VUCA adalah sebuah alat yang sangat elegan untuk zamannya. Namun, terus menerus menggunakan lensa VUCA untuk melihat dunia saat ini adalah seperti seorang dokter ahli dari tahun 1980 yang bersikeras menggunakan mesin X-ray untuk mendiagnosis penyakit di level seluler pada tahun 2025. Alat itu tidak salah, tetapi ia secara berbahaya tidak lagi cukup. Mari kita bedah setiap lensanya.

Volatility (Volatilitas): Ilusi Kecepatan tanpa Arah

Lensa Volatility mengajarkan kita bahwa dunia bergerak dengan sangat cepat. Ia memaksa para pemimpin untuk menjadi lebih responsif terhadap fluktuasi harga atau perubahan tren pasar. Ini adalah sebuah pengamatan yang benar, tetapi kini menjadi sebuah penyederhanaan yang berbahaya. Masalah kita saat ini bukanlah sekadar “perubahan yang cepat”. Masalah kita yang sesungguhnya adalah Hyper-connectivity (keterhubungan-hiper).

Di era VUCA, sebuah ombak besar di satu lautan mungkin tidak akan terasa di benua lain. Sedangkan di Era CUAN, setiap tetes air di seluruh lautan dunia saling terhubung dalam hitungan detik. Sekali lagi, sebuah video TikTok di satu kota bisa memicu krisis rantai pasok global dalam seminggu.

Volatility hanya melihat “seberapa cepat ombak datang”, ia tidak melihat “jaringan arus bawah laut” yang menyebabkan ombak itu. Ia membuat kita reaktif, tetapi tidak membuat kita mampu memahami sistem di baliknya. Fokus pada volatilitas saja membuat kita menjadi “pemadam kebakaran” yang hebat, tetapi kita tidak pernah menjadi “arsitek” bangunan yang tahan api.

Uncertainty (Ketidakpastian): Jebakan Prediksi dalam Ketidakpastian yang “Jinak”

Di era VUCA, lensa Uncertainty mengajarkan kita bahwa masa depan tidak bisa diprediksi secara pasti, dan ini melatih kita untuk membuat skenario serta rencana kontingensi. Ini sangat berguna jika kita menghadapi “ketidakpastian yang jinak” (tame uncertainty), yaitu ketidakpastian di dalam sebuah sistem yang aturannya masih kita kenal. Contoh klasiknya adalah “ketidakpastian penjualan sebuah produk atau layanan baru”, mungkin kita tahu kategori segmentasi markset dan tahu siapa prospeknya, namujn kita hanya tidak tahu siapa yang akan membelinya.

Namun, ketidakpastian yang kita hadapi di Era CUAN bersifat lebih radikal dan liar. Kita tidak lagi hanya menghadapi “angsa abu-abu” yang bisa kita perkirakan. Kita kini secara rutin dihadapkan pada “Angsa Hitam” (Black Swans), yaitu peristiwa dengan probabilitas sangat rendah namun dampaknya luar biasa besar, yang sama sekali tidak ada dalam radar prediksi kita. Pandemi COVID-19 dan kemunculan tiba-tiba AI generatif adalah dua “Angsa Hitam” yang sempurna.

Lensa Uncertainty dari VUCA secara berbahaya melenakan kita ke dalam ilusi bahwa kita bisa “mengelola” ketidakpastian. Ia mempersiapkan kita untuk menghadapi “badai tropis” yang polanya bisa diprediksi. Ia sama sekali tidak mempersiapkan kita untuk menghadapi “hantaman meteor” yang mengubah iklim planet ini selamanya.

Complexity (Kompleksitas): Melihat Pohon, Kehilangan Hutan

Lensa Complexity dalam VUCA adalah sebuah lompatan besar. Ia mengakui bahwa ada banyak bagian yang saling terhubung. Namun, ia secara implisit masih mengasumsikan bahwa ini adalah sebuah sistem yang rumit (complicated), bukan benar-benar kacau (chaotic). Ia seperti sebuah mesin jet yang sangat rumit, yang jika dibedah oleh para ahli, pada akhirnya masih bisa dipetakan. Realitas kita sekarang berbeda. Kita tidak lagi hanya menghadapi kerumitan; kita menghadapi kekacauan, di mana hubungan sebab-akibat runtuh total.

Sebaliknya, Chaotic di Era CUAN bersifat sama sekali berbeda. Ia bukanlah kompleksitas dari sebuah mesin jet, melainkan kompleksitas dari sebuah hutan hujan dan bahaya yang mengancam. Ia tidak hanya rumit, tetapi ia ekosistemik dan evolusioner. Ia adalah sebuah sistem terbuka yang hidup, di mana predator, mangsa, cuaca, jenis tanah, dan virus semuanya saling memengaruhi dan terus-menerus beradaptasi dan berubah bentuk. Anda tidak bisa “memperbaiki” sebuah hutan hujan. Anda hanya bisa mencoba memahami prinsip-prinsip dasarnya dan belajar untuk “menari” dengan ke-chaos-annya. Lensa Complexity VUCA mengajarkan kita untuk menjadi “mekanik” yang hebat, sementara Era CUAN menuntut kita untuk menjadi “ahli biologi” yang bijaksana.

Ambiguity (Ambiguitas): Krisis Makna di Dunia yang Terlalu Terang

Terakhir, lensa Ambiguity. Ia mengajarkan kita bahwa informasi yang kita miliki bisa memiliki banyak tafsir. Ini adalah tantangan “kabut perang”, di mana kita memiliki data yang mungkin tidak lengkap atau kontradiktif, dan kita harus membuat keputusan terbaik berdasarkan interpretasi kita.

Di Era CUAN, tantangan kita jauh melampaui “kabut perang”. Kita telah memasuki era “perang terhadap realitas”. Dengan adanya disinformasi yang didukung AI, deepfake, dan echo chamber media sosial yang sangat terpolarisasi, masalah terbesar kita bukan lagi “menafsirkan fakta”. Masalah terbesar kita adalah “membedakan mana yang fakta dan mana yang fiksi”.

Ambiguitas tidak lagi hanya berada di level makna, ia telah turun hingga ke level kebenaran itu sendiri. VUCA mengajarkan kita untuk menjadi seorang “interpreter” yang baik. Era CUAN menuntut kita untuk menjadi seorang “ahli forensik kebenaran” yang sangat kritis dan skeptis.

Oleh karena itu, mari kita katakan dengan tegas dan tanpa basa-basi: VUCA sudah “meninggal”. Ia adalah kerangka kerja yang terhormat, tetapi ia wafat di medan perang tahun 2020. Terus menerus menggunakannya adalah sebuah tindakan nostalgia yang berbahaya. Ia seperti seorang jenderal yang bersiap untuk perang kavaleri di era perang drone. Sudah saatnya kita menguburkannya dengan hormat dan mulai mempelajari peta medan perang yang baru.


Memperkenalkan CUAN: Anatomi Realitas Baru

Jika VUCA adalah peta dari dunia yang telah hilang, maka kita membutuhkan sebuah bahasa baru, sebuah lensa baru yang lebih presisi untuk memetakan wilayah yang sedang kita hadapi saat ini. Bahasa itu kami rangkum dalam sebuah akronim baru yang secara sadar kami pilih: CUAN. Ia berdiri di atas empat pilar realitas yang tak terhindarkan: Chaotic, Uncertainty, Ambiguity, dan Novelty.

Perbedaan antara Era VUCA dan Era CUAN (Chaotic, Uncertainty, Ambiguity, Novelty) dalam manajemen strategis modern
CUAN

CUAN bukanlah sekadar pengganti akronim. Ia adalah sebuah pergeseran paradigma. Ia adalah pengakuan jujur bahwa sifat dari “badai” telah berubah, dan oleh karena itu, cara kita memahami dan meresponsnya juga harus berubah secara fundamental. Mari kita bedah setiap pilar dari anatomi realitas baru ini.

C – Chaotic (Kekacauan)

Ini adalah pengakuan paling brutal dari Era CUAN. Ia menyatakan bahwa kita telah memasuki sebuah domain di mana hubungan sebab-akibat yang stabil tidak lagi ada. Ini bukanlah sekadar ‘kerumitan’ yang bisa diurai. Ini adalah kekacauan, di mana sebuah aksi kecil bisa memicu dampak masif yang tak terduga (efek kupu-kupu), sementara sebuah strategi besar bisa jadi tidak menghasilkan apa-apa. Pilar ini memaksa kita untuk berhenti mencari ‘jawaban yang benar’ dan mulai belajar menari dengan ketidakpastian.

Tentu saja, kekacauan ini lahir dari sebuah kompleksitas sistemik akibat hiper-konektivitas global. Namun, dengan menempatkan ‘Chaotic’ sebagai pilar utama, kita secara jujur mengakui gejala yang paling kita rasakan sehari-hari.

Inilah dunia kita sekarang. Bukan lagi sekadar mesin, tetapi sebuah ekosistem global yang hiper-terhubung. Sebuah keputusan kecil untuk mengubah satu baris kode dalam sebuah algoritma di California bisa secara tak terduga memengaruhi hasil pemilu di sebuah negara di Asia Tenggara. Sebuah gangguan kecil pada satu pemasok komponen di Taiwan bisa menciptakan kelumpuhan di industri teknologi perangkat keras global.

Di dunia yang kompleks ini, hubungan sebab-akibat tidak lagi bersifat linear. Ia bersifat non-linear dan seringkali tidak proporsional. Aksi kecil bisa menimbulkan reaksi masif, sementara upaya besar bisa jadi tidak menghasilkan apa-apa. Berpikir dalam kerangka linear atau silo fungsional adalah sebuah resep untuk bencana. Era ini menuntut para pemimpin untuk berhenti menjadi “mekanik” yang hebat, dan mulai belajar menjadi seorang “ahli biologi” yang mampu memahami dinamika dan interdependensi dari sebuah sistem yang hidup.

U – Uncertainty (Ketidakpastian Radikal)

Pilar kedua, Uncertainty, juga mengalami sebuah lompatan kuantum. Ketidakpastian di era VUCA adalah ketidakpastian yang “jinak”, kita masih bisa memetakan skenario dan probabilitasnya. Ketidakpastian di Era CUAN bersifat radikal dan liar. Ia adalah realitas dari apa yang disebut oleh para filsuf sebagai “unknown unknowns”, yaitu hal-hal yang kita bahkan tidak tahu bahwa kita tidak mengetahuinya.

Kita tidak lagi hanya dihadapkan pada risiko yang bisa dihitung, tetapi pada ketidakpastian eksistensial. Kita tidak tahu model bisnis apa yang akan relevan dalam lima tahun ke depan. Kita tidak tahu profesi apa yang akan lenyap oleh gelombang AI berikutnya. Kita tidak tahu krisis geopolitik atau ekologis apa yang akan muncul dan mengubah semua asumsi kita.

Di hadapan ketidakpastian radikal ini, perencanaan strategis lima tahunan yang detail menjadi sebuah latihan fiksi yang sia-sia. Mencoba untuk “memprediksi” atau “mengontrol” masa depan adalah sebuah kesombongan intelektual. Satu-satunya strategi yang valid untuk menghadapi ketidakpastian radikal adalah dengan membangun resiliensi dan opsionalitas. Ini adalah tentang membangun sebuah “kapal” yang tidak hanya kokoh, tetapi juga memiliki sekoci, persediaan makanan darurat, dan kru yang mampu menavigasi tanpa peta sama sekali.

Baca Juga: Menaklukkan Era Chaos, sebuah Resep Ampuh Mendesain Resiliensi dan Mencetak Expert-Generalist

A – Ambiguity (Ambiguitas Kebenaran)

Pilar ketiga, Ambiguity, adalah yang paling meresahkan secara filosofis. Di era VUCA, ambiguitas adalah tentang ketidakjelasan makna dari informasi yang kita miliki. Di Era CUAN, ambiguitas telah turun ke level yang lebih dalam: ia adalah tentang ketidakjelasan realitas itu sendiri.

Dengan adanya AI generatif yang mampu menciptakan gambar, video (deepfake), dan teks yang tidak bisa dibedakan dari karya manusia, serta echo chamber media sosial yang menciptakan “kebenaran”-nya sendiri untuk setiap kelompok, kita telah memasuki sebuah era “pasca-kebenaran” (post-truth).

Tantangan terbesar bagi seorang pemimpin saat ini bukanlah lagi “Bagaimana cara saya menafsirkan data ini?”, melainkan “Apakah data yang sedang saya lihat ini benar-benar nyata?”. Ini adalah sebuah krisis epistemologis. Saat “kebenaran” menjadi sebuah komoditas yang bisa diproduksi secara massal, maka “kepercayaan” menjadi mata uang yang paling langka dan paling berharga.

Organisasi yang akan bertahan di era ini adalah mereka yang secara obsesif membangun budaya integritas dan verifikasi kebenaran internal (The Truth). Sementara di luar, mereka harus menjadi sangat ahli dalam menavigasi lautan informasi yang penuh dengan “sirene” kepalsuan, dengan selalu berpegang pada prinsip dan data yang bisa divalidasi.

Baca Juga: Apa Itu TCM-GIK? Sebuah Perjalanan Menemukan Sistem Operasi untuk Kehidupan & Bisnis

N – Novelty (Kebaruan yang Tak Berpreseden)

Dan inilah pilar pamungkas yang secara definitif membedakan CUAN dari VUCA. Novelty adalah pengakuan bahwa kita saat ini secara rutin dihadapkan pada tantangan-tantangan yang sama sekali belum pernah ada presedennya dalam sejarah manusia.

Pandemi global yang mengunci seluruh planet. Kemunculan AI yang mampu lulus ujian kedokteran. Perubahan iklim yang menciptakan fenomena cuaca ekstrem. Ini bukanlah versi baru dari masalah lama. Ini adalah kategori masalah yang benar-benar baru.

Implikasinya sangat brutal: pengalaman masa lalu dan best practice seringkali tidak lagi relevan. Seorang CEO yang sangat sukses selama 30 tahun dengan model bisnis dari era industri mungkin justru adalah orang yang paling tidak siap untuk menghadapi tantangan novelty. Pengalamannya, yang dulu menjadi aset terbesar, kini bisa menjadi “belenggu” yang menghalanginya untuk melihat solusi yang radikal.

Era Novelty menuntut kita untuk melepaskan kesombongan dari “pengalaman” dan merangkul kerendahan hati seorang “pembelajar pemula” (beginner’s mind). Ia menuntut kemampuan untuk melakukan eksperimen yang cepat dan murah, bukan lagi implementasi besar yang lambat. Ia menuntut organisasi untuk tidak hanya menjadi efisien, tetapi juga menjadi mesin penemuan. Dan inilah jembatan langsung mengapa di Era CUAN, kemampuan untuk menjadi Ambidextrous bukan lagi kemewahan, melainkan syarat utama untuk bertahan hidup.


Tabel Komparasi Kritis: VUCA vs. CUAN

Untuk mempertajam pemahaman kita dan melihat secara berdampingan betapa jauhnya lompatan yang telah terjadi, mari kita letakkan kedua kerangka kerja ini di atas meja otopsi. Tabel berikut bukanlah sekadar ringkasan. Ia adalah sebuah cermin diagnostik bagi Anda, para pemimpin, untuk bertanya: “Di dunia mana saya dan organisasi saya sebenarnya sedang beroperasi hari ini? Apakah saya masih menggunakan peta dari dunia yang telah lama hilang?”

Kriteria AnalisisParadigma VUCA (Kerangka Kerja Era Lalu)Paradigma CUAN (Anatomi Realitas Baru)
Metafora DuniaSebuah labirin yang rumit. Tantangannya adalah tentang menemukan jalan keluar.Sebuah badai petir di tengah hutan hujan di mana bukan hanya kesulitan mencari jalan keluar, namun juga dibayangi oleh bahaya yang mengancam.
Sifat Tantangan UtamaPerubahan yang cepat dan sering. Fokus pada kecepatan respons.Perubahan yang eksponensial dan tak terduga sama sekali. Fokus pada ketahanan (resiliensi) dan penciptaan hal baru (novelty).
Sumber “Kecemasan” Utama“Apakah kita cukup cepat untuk beradaptasi?”“Apakah kita masih relevan besok pagi?”
Fokus Utama ManajemenMengelola Risiko dan Beradaptasi terhadap perubahan.Membangun Resiliensi dan Berinovasi di tengah kekacauan.
Pengalaman Masa LaluMasih dianggap sebagai aset berharga untuk membuat prediksi dan rencana kontingensi.Seringkali menjadi beban dan “penjara” mental yang menghalangi kita untuk melihat solusi radikal.
Hubungan Sebab-AkibatSulit dipetakan, tetapi secara teoretis masih ada dan bisa dianalisis oleh para ahli.Secara fundamental telah runtuh. Interkoneksi yang hiper-kompleks membuatnya nyaris mustahil untuk dipetakan.
Kebutuhan KapabilitasAgilitas, Fleksibilitas, Pengambilan Keputusan Cepat.Semua kapabilitas VUCA + Kemampuan berpikir sistemik, kreativitas radikal, dan literasi AI.
Pendekatan Solusi IdealCukup dengan menjadi Agile (Lincah).Agile saja tidak cukup; harus menjadi Ambidextrous (Lincah dan Kokoh secara bersamaan), menggabungkan Lean dan Agile secara SIMULTAN.

Tabel ini secara brutal menunjukkan bahwa beroperasi dengan mindset VUCA di Era CUAN adalah seperti seorang kapten kapal pesiar yang dengan sangat ahli membaca grafik gelombang, tanpa menyadari bahwa kapalnya sedang menuju ke daratan es Antartika. Peta dan peralatannya sudah benar untuk dunianya, tetapi dunianya yang telah berubah.

Perbedaan ini bukanlah sekadar perbedaan semantik. Ia menuntut sebuah pergeseran total dalam cara kita merancang organisasi, mengembangkan pemimpin, dan merumuskan strategi. Jika dunia telah berevolusi, maka kita tidak punya pilihan selain ikut berevolusi, atau menerima takdir untuk menjadi fosil dari sebuah era yang telah berlalu.


Implikasi Strategis bagi Pemimpin: Mengapa “Agile” Saja Tidak Akan Menyelamatkan Anda

Setelah kita menerima bahwa kita tidak lagi hidup di dunia VUCA, melainkan di tengah realitas CUAN yang lebih ganas, pertanyaan berikutnya menjadi sangat personal dan mendesak bagi setiap pemimpin: “Lalu, apa artinya ini bagi saya dan cara saya memimpin?”. Jawaban singkatnya adalah: semua yang pernah kita pelajari tentang keunggulan kompetitif kini perlu dipertanyakan kembali. Dan “obat” yang paling populer dalam satu dekade terakhir, yaitu menjadi Agile saja ternyata tidak lagi cukup ampuh.

Mari kita jujur. Gerakan Agile adalah sebuah respons yang brilian terhadap dunia VUCA. Dengan siklusnya yang pendek, fokus pada umpan balik pelanggan, dan tim yang diberdayakan, Agile adalah “senjata” yang sempurna untuk menghadapi Volatility dan Uncertainty. Ia mengajarkan organisasi untuk menjadi “pematung” yang lincah, yang mampu mengubah bentuk produknya sesuai dengan keinginan pasar yang berubah-ubah. Kita harus berterima kasih pada Agile karena telah membebaskan kita dari belenggu model waterfall yang kaku.

Namun, inilah kebenaran yang brutal: Agile, dalam bentuknya yang paling murni, secara fundamental adalah sebuah filosofi Eksplorasi. Ia sangat hebat dalam mencari “apa yang baru”. Ia adalah mesin yang luar biasa untuk inovasi produk. Tetapi, sebuah organisasi yang hanya Agile adalah seperti sebuah laboratorium riset yang brilian namun akan segera bangkrut. Ia mungkin penuh dengan prototipe-prototipe hebat, tetapi ia sangat buruk dalam hal efisiensi, prediktabilitas, dan profitabilitas skala besar. Ia secara inheren mengabaikan sisi lain dari mata uang bisnis: Eksploitasi.

Di sisi lain, ada “saudara kembar” Agile yang seringkali dianggap sebagai musuhnya: Lean. Filosofi Lean adalah seorang master Eksploitasi. Ia terobsesi dengan eliminasi pemborosan, standardisasi proses, dan penciptaan kualitas tertinggi dengan biaya serendah mungkin. Ia adalah mesin yang menghasilkan profitabilitas yang bisa diprediksi. Namun, sebuah organisasi yang hanya Lean adalah seperti sebuah pabrik dari tahun 1980 yang sangat efisien, tetapi produk yang dihasilkannya sudah tidak lagi relevan dengan pasar. Ia sangat rentan terhadap satu guncangan disrupsi saja.

Di Era CUAN, memilih antara menjadi Agile atau menjadi Lean adalah sebuah kemewahan yang tidak lagi kita miliki. Memilih salah satu adalah memilih cara “mati” yang berbeda: mati karena kehabisan uang (jika hanya Agile), atau mati karena menjadi tidak relevan (jika hanya Lean). Oleh karena itu, mandat strategis yang baru bagi para pemimpin bukanlah lagi tentang menjadi lincah. Mandatnya adalah menjadi Ambidextrous.

Baca Juga: Arsitektur Organisasi Ambidex: Peta Jalan untuk Menaklukkan Era Chaos

Kemampuan Ambidex adalah kemampuan sebuah organisasi untuk menjalankan mesin Eksploitasi dengan presisi tingkat tinggi, sambil secara bersamaan menyalakan mesin Eksplorasi untuk mencari model bisnis masa depan. Ini adalah kemampuan untuk menjadi “pabrik” dan “laboratorium riset” pada saat yang sama, di bawah satu atap yang sama.

Implikasinya bagi para pemimpin sangatlah berat. Peran Anda menjadi jauh lebih sulit. Di satu rapat dengan tim, Anda harus menuntut disiplin, kepatuhan pada proses, dan efisiensi biaya (memakai topi Lean). Namun di rapat berikutnya dengan tim yang berbeda, Anda justru harus menuntut eksperimen liar, toleransi pada kegagalan, dan keberanian mendobrak aturan (memakai topi Agile).

Pertanyaan terbesarnya adalah: Kerangka kerja manajemen apa yang memungkinkan seorang pemimpin dan sebuah organisasi untuk “memiliki dua topeng” secara harmonis ini? Di sinilah kerangka kerja tradisional dan bahkan Scrum murni mulai menunjukkan keterbatasannya. Dan di sinilah sebuah sistem operasi baru yang dirancang secara natural diperlukan untuk bisa mengharmonisasikan dua hal yang dianggap bertentangan. Inilah eranya Ambidexterity.


Kesimpulan: Menggunakan Bahasa yang Tepat untuk Menemukan “Cuan”

Perjalanan kita membedah evolusi dari VUCA ke CUAN membawa kita pada satu kesadaran penting: menggunakan bahasa yang tepat untuk mendeskripsikan realitas adalah langkah pertama dan paling fundamental menuju perumusan strategi yang tepat. Terus-menerus menggunakan “peta” VUCA yang usang untuk mengarungi dan menaklukan “wilayah” CUAN yang ganas akan membuat kita tersesat dalam ilusi keamanan, dan pada akhirnya, akan membawa kita pada “kepunahan” yang kita takuti. Kita harus memiliki keberanian intelektual untuk mengakui bahwa iklim telah berubah secara fundamental.

Menerima realitas CUAN, dengan segala Kompleksitas, Ketidakpastian, Ambiguitas, dan Kebaruannya adalah sebuah tindakan yang menyakitkan. Ia memaksa kita untuk melepaskan semua zona nyaman kita. Ia memaksa kita untuk berhenti mengandalkan best practice dari masa lalu yang kini telah menjadi “artefak museum”. Ia memaksa kita untuk mengakui bahwa menjadi Lean dengan produktivitas ATAU Agile (lincah) saja tidak cukup, kita harus menjadi Ambidextrous. Ini adalah sebuah diagnosis yang brutal, tetapi juga sebuah diagnosis yang membebaskan. Kita harus menggunakan jurus GENIUS OF AND (CUAN) untuk mengambil semua opsi yang ada, bukan terjebak dalam pusaran TYRANNY OF OR (VUCA).

Mengapa membebaskan? Karena ia menghentikan kita dari kesia-siaan, dari upaya untuk terus-menerus “memperbaiki” sebuah mesin yang secara desain sudah tidak lagi cocok dengan medan perangnya. Ia memberikan kita izin untuk mulai merancang sebuah mesin yang sama sekali baru.

Dan inilah keindahan tersembunyi di balik semua kegelisahan ini.

Di Sarastya, kami secara sadar memilih akronim CUAN bukan untuk menakut-nakuti. Sebaliknya, ini adalah sebuah panggilan yang penuh harapan. Dalam bahasa kita sehari-hari di Indonesia, kata “cuan” memiliki makna yang sangat positif: keuntungan, keberuntungan, sebuah nilai, dan dampak baik.

Ini adalah sebuah pengingat bagi kita semua. Bahwa di dalam setiap zaman yang paling kacau, paling tidak pasti, dan paling ambigu sekalipun, selalu tersembunyi peluang “cuan” yang luar biasa besar. Peluang ini tidak akan bisa dilihat oleh mereka yang masih menggunakan kacamata VUCA. Ia hanya akan terlihat oleh para pemimpin dan organisasi yang berani merangkul realitas baru, menari di tengah badai, dan secara proaktif mencari cara-cara baru untuk memberikan nilai.

Pada akhirnya, Era CUAN bukanlah sebuah vonis kiamat. Ia adalah sebuah ajakan tangan terbuka. Sebuah undangan untuk kita semua berikhtiar dengan lebih cerdas, lebih tangguh, dan lebih tulus. Karena di tengah “zaman edan” inilah, mereka yang tetap “eling lan waspada” (ingat dan waspada), yang sadar akan tantangan tetapi juga jeli melihat peluanglah akan menjadi pemenang sejati. Mereka adalah yang tidak hanya akan bertahan, tetapi juga akan meraih “cuan” dalam arti yang seluas-luasnya: keuntungan finansial, dampak sosial, dan pertumbuhan manusiawi yang berkelanjutan.Pertanyaannya bukan lagi “apakah kita siap untuk Era CUAN?”. Pertanyaannya adalah, “apakah kita siap untuk menemukan ‘cuan’ di dalamnya?

Scroll to Top